Nganjuk, Jatimmandiri.id – Langkah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menautkan dunia akademik dengan realitas lapangan mendapat sorotan positif.
Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik yang digagas kampus tersebut dinilai berhasil menjembatani pembelajaran perguruan tinggi agar lebih relevan dan berdampak langsung bagi kebutuhan masyarakat.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 16.000 mahasiswa diterjunkan langsung ke lapangan selama sekitar empat bulan.
Sepanjang periode tersebut, para mahasiswa akan berkolaborasi erat dengan pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), hingga beragam komunitas lokal.
Apresiasi hangat datang langsung dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan.
Hadir dalam acara Kick Off Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Semester Gasal 2026/2027 di Kampus II Unesa Lidah Wetan, Surabaya, Selasa (28/7/2026), ia menegaskan pentingnya perguruan tinggi menempatkan diri sebagai bagian dari entitas sosial yang responsif terhadap tantangan pembangunan.
Fauzan menyoroti pentingnya integrasi antara proses belajar siswa dan riset akademisi dengan kebutuhan nyata publik.
“Perguruan tinggi harus menyadari posisinya sebagai bagian dari entitas sosial. Melalui program ini, mahasiswa akan belajar langsung tentang kehidupan yang sebenarnya. Karya-karya dosen juga tidak boleh berhenti pada jurnal ilmiah saja, tetapi harus memberikan manfaat dan rekomendasi solusi bagi program pemerintah daerah,” ujarnya.
Guru besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menambahkan bahwa pengalaman belajar di tengah masyarakat menyajikan pelajaran berharga yang tak bisa digantikan oleh ruang kelas.
Melalui interaksi langsung, mahasiswa tak cuma mengasah kompetensi akademik, tetapi juga memupuk kepekaan sosial, empati, serta kemampuan merumuskan solusi secara kolaboratif.
Dukungan senada diutarakan oleh Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi.
Menurutnya, skema mobilitas akademik ini menjadi wadah ideal yang mempertemukan teori-teori akademis dengan dinamika pembangunan di daerah.
“Program ini seperti kurikulum kehidupan yang nyata. Mahasiswa dapat memahami langsung persoalan makro di daerah seperti penanganan tengkes (stunting), kemiskinan ekstrem, hingga pengembangan wisata dan pertanian. Keterlibatan mahasiswa akan sangat membantu pemerintah daerah menemukan solusi cepat,” ucap Marhen ketika bersama mahasiswa.
Kehadiran mahasiswa di lapangan membawa angin segar bagi pemerintah daerah.
Ide-ide segar dan inovatif yang dibawa para mahasiswa diharapkan mampu mengakselerasi pembangunan sekaligus memperkuat sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah.
Sementara itu, Rektor Unesa, Prof Nurhasan yang akrab disapa Cak Hasan, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor ini menempatkan program Unesa pada posisi yang sangat strategis.
Bagi Unesa, program ini bukan sekadar inovasi kurikulum internal, melainkan sebuah ruang terbuka yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan realitas dunia kerja dan kebutuhan daerah.
“Dengan pendekatan itu, proses belajar diharapkan menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman nyata dalam menghadirkan solusi bersama berbagai pemangku kepentingan,” tutup Cak Hasan.












