Jatim Mandiri – Ancaman keamanan siber terus berkembang seiring pesatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Laporan terbaru Akamai Technologies menunjukkan serangan bot berbasis AI di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) meningkat 63 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Industri ritel dan perjalanan menjadi dua sektor yang paling banyak menjadi sasaran. (akamai.com)
Bot merupakan program otomatis yang dapat menjalankan berbagai aktivitas di internet. Dalam dunia kejahatan siber, teknologi ini dimanfaatkan untuk mencuri akun, menguras stok barang, mengirim spam, hingga menyerang aplikasi digital dalam skala besar.
Vice President & Regional General Manager Akamai Technologies Asia Pasifik dan Jepang, Dan Monahan, mengatakan perkembangan AI membuat bot semakin sulit dibedakan dari pengguna asli.
“Bot saat ini semakin cerdas dan mampu meniru aktivitas manusia. Organisasi perlu mengembangkan strategi keamanan yang lebih adaptif untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang,” kata Monahan dalam keterangan resminya. (akamai.com)
Menurut Akamai, sektor ritel menjadi target utama karena menyimpan data pelanggan dan transaksi dalam jumlah besar. Sementara industri perjalanan rentan diserang karena tingginya aktivitas pemesanan tiket dan hotel secara daring.
Serangan bot berbasis AI juga semakin sering digunakan untuk menjalankan credential stuffing, yaitu mencoba jutaan kombinasi nama pengguna dan kata sandi hasil kebocoran data. Jika berhasil, akun korban dapat diambil alih dan disalahgunakan.
Akamai menyarankan perusahaan memperkuat perlindungan aplikasi digital melalui autentikasi berlapis, pemantauan aktivitas secara real time, serta teknologi pendeteksi bot berbasis AI. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko pencurian data maupun gangguan layanan digital.












