Kota Besar

Tragedi Ledakan Gas di San Antonio Pakuwon, Senator Lia Istifhama Dorong Penguatan SOP K3 Usaha

Penulis: Alif Bintang
×

Tragedi Ledakan Gas di San Antonio Pakuwon, Senator Lia Istifhama Dorong Penguatan SOP K3 Usaha

Sebarkan artikel ini
Lia Istifhama.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id — Peristiwa ledakan yang diduga bersumber dari tabung gas di kompleks ruko San Antonio, Pakuwon, Surabaya pada Selasa (6/10/2026), menyita perhatian serius Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama.

Senator yang akrab disapa Ning Lia ini menegaskan bahwa insiden memilukan tersebut harus menjadi momentum krusial untuk memperketat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), terutama bagi sektor usaha yang memanfaatkan tabung gas operasional.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Keprihatinan mendalam disampaikan Lia atas musibah yang tidak hanya meluluhlantakkan bangunan, tetapi juga memakan korban.

Berdasarkan informasi terbaru, sebanyak lima warga mengalami luka-luka dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo.

“Kita turut prihatin dan bersedih atas musibah ledakan akibat tabung gas di Pakuwon Surabaya. Terlebih bukan hanya kerusakan material, namun juga membuat lima warga menjadi korban luka yang kini masih dirawat intensif di RSUD Soetomo,” ujar Lia saat dihubungi.

Guna membongkar akar masalah, Lia mendesak aparat berwenang untuk mengusut tuntas penyebab ledakan tersebut.

Menurutnya, hasil investigasi tak sekadar menjadi laporan akhir, melainkan harus dijadikan bahan acuan evaluasi agar tragedi serupa tak berulang di tempat lain.

“Harapannya, investigasi yang dilakukan pihak berwajib memberikan hasil yang detail dan komprehensif. Ini penting sebagai bahan analisa dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terjadi di manapun,” tegasnya.

Ia menyoroti pentingnya kesadaran manajerial dalam memetakan potensi bahaya (hazard) sebelum musibah terjadi.

Mitigasi risiko, lanjutnya, harus melekat dalam budaya kerja setiap pemilik usaha.

“Yang paling pokok terkait pencegahan adalah kembali pada manajerial internal kita semua, terutama para pelaku usaha. Bagaimana upaya mencegah kecelakaan melalui pemahaman hazard atau potensi bahaya, serta bagaimana ketika insiden terjadi,” jelasnya.

Baca Juga  Gol Dramatis Yirenkyi Bawa Ghana Kalahkan Panama 1-0 di Piala Dunia

Lia menilai edukasi K3 tidak boleh lagi sekadar formalitas di atas kertas, melainkan butuh pendampingan objektif dari instansi terkait.

Khusus bagi unit usaha yang bergantung pada tabung gas berkapasitas besar, mulai dari 12 kg hingga 50 kg, kehadiran Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas adalah harga mati.

“Harus ada SOP terkait potensi hazard atau faktor intrinsik bahaya yang melekat pada tabung itu,” katanya.

Aspek teknis penempatan tabung juga menjadi sorotan. Lia mengingatkan pentingnya sirkulasi udara yang memadai, kecukupan ventilasi, serta pengaturan jarak aman antar-tabung maupun dari sumber api.

Selain itu, ketersediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang mudah dijangkau serta pemahaman atas kondisi near miss (kejadian nyaris celaka) wajib dimiliki pengelola tempat usaha.

“Intinya situasional. Yang terpenting bagaimana pelaku usaha memahami risiko, menyediakan sarana keselamatan, dan mengetahui langkah antisipasi ketika terjadi kondisi bahaya,” paparnya.

Menutup pernyataannya, Lia menekankan bahwa secanggih apa pun peralatan keselamatan yang dimiliki, kunci utama K3 tetap berada pada kesiapan dan kedisiplinan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjalankan prosedur.

“Pengawasan SOP kerja ini juga meliputi kemampuan SDM atau pelaku usaha untuk memahami risiko dan segala antisipasi kecelakaan kerja di sektor pekerjaan yang digelutinya,” pungkas Lia.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *