SURABAYA, jatimmandiri.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi membuka rangkaian peringatan Surabaya Heroic Days 2025 melalui gelaran bertajuk Tjangkroekan Djoeang yang berlangsung di Halaman Tugu Pahlawan pada 31 Oktober hingga 1 November 2025. Mengusung konsep nongkrong santai khas arek Suroboyo, acara ini menghadirkan suasana tempo doeloe yang sarat nuansa perjuangan sekaligus menjadi ruang interaksi masyarakat untuk mengenang sejarah Kota Pahlawan.
Kegiatan tersebut menjadi pembuka rangkaian Surabaya Heroic Days yang setiap tahun digelar untuk memperingati semangat perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Berbeda dari kegiatan seremonial pada umumnya, Tjangkroekan Djoeang dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat melalui perpaduan kuliner tradisional, pertunjukan seni, serta suasana khas era perjuangan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Surabaya, Hidayat Syah, mengatakan bahwa konsep Tjangkroekan Djoeang sengaja dirancang untuk menghidupkan kembali atmosfer Surabaya tempo dulu sekaligus menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi pengunjung.
“Konsepnya adalah nongkrong santai yang terbuka untuk umum, dimeriahkan dengan hadirnya Pasar UMKM Tempo Doeloe dan tampilan seni. Kami mengajak warga menikmati malam dengan suasana tempo doeloe,” ujar Hidayat Syah, Sabtu (1/11/2025).
Menurutnya, pendekatan tersebut dipilih agar nilai-nilai kepahlawanan tidak hanya dipahami melalui cerita sejarah, tetapi juga dapat dirasakan langsung melalui pengalaman budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu daya tarik utama Tjangkroekan Djoeang adalah sajian kuliner legendaris khas Surabaya yang disajikan dalam konsep lesehan maupun meja-meja bernuansa jadul. Pengunjung dapat menikmati berbagai makanan tradisional yang telah dikurasi, seperti Nasi Osek, Sego Sadukan, Rangin, hingga Arumanis yang mengingatkan pada jajanan masa lampau.
Sambil menikmati hidangan dan menyeruput kopi, masyarakat juga disuguhi beragam pertunjukan seni yang menambah suasana hangat dan akrab di bawah langit malam kawasan Tugu Pahlawan. Perpaduan antara kuliner, hiburan, dan sejarah tersebut membuat pengunjung seolah diajak kembali ke masa perjuangan yang menjadi bagian penting perjalanan Kota Surabaya.
Selain menghadirkan pengalaman budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Melalui Pasar UMKM Tempo Doeloe, para pelaku usaha mendapat kesempatan memperkenalkan produk sekaligus meningkatkan penjualan selama penyelenggaraan acara.
“Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, hanya Rp5.000, acara ini tidak hanya berfungsi sebagai medium transformasi nilai-nilai kepahlawanan, tetapi juga secara langsung berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menggerakkan ekonomi UMKM lokal,” terang Hidayat.
Ia menambahkan, penyelenggaraan Tjangkroekan Djoeang juga berdampak positif terhadap sektor pariwisata Kota Surabaya. Kehadiran berbagai komunitas, termasuk para reenactor serta wisatawan dari luar daerah, turut meningkatkan aktivitas ekonomi dan kunjungan wisata menjelang puncak peringatan Surabaya Heroic Days.
Dengan dimulainya rangkaian kegiatan sejak akhir Oktober, para tamu yang datang memiliki kesempatan lebih panjang untuk menikmati berbagai destinasi dan agenda wisata yang telah disiapkan Pemkot Surabaya. Kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan tingkat hunian hotel, kunjungan destinasi wisata, serta perputaran ekonomi masyarakat.
“Tjangkroekan Djoeang menjadi pembuka yang manis dan personal, membuktikan bahwa semangat kepahlawanan bisa diwariskan tidak hanya melalui teatrikal heroik, tetapi juga melalui obrolan hangat, santapan lezat, dan nostalgia di bawah langit malam Tugu Pahlawan,” ungkapnya.
Melalui konsep yang menggabungkan sejarah, budaya, kuliner, dan pemberdayaan ekonomi lokal, Tjangkroekan Djoeang menjadi bukti bahwa peringatan perjuangan tidak selalu harus dikemas secara formal. Pemkot Surabaya berupaya menghadirkan ruang yang lebih inklusif agar generasi muda dapat mengenal dan menghayati nilai-nilai kepahlawanan dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan masa kini.












