Intisari Berita:
- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendistribusikan bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Dusun Marang, Desa Larangan Barma, Sumenep, Kamis (15/10/2026).
- Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran tanggap darurat sebesar Rp130 juta beserta 90 tandon air, 540 jeriken, dan 200 lembar terpal untuk menopang kebutuhan warga.
- Sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air tahunan bagi 271.017 jiwa, Pemprov menyiapkan rencana pembangunan sumur bor pada awal 2027.
Sumenep, Jatimmandiri.id — Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bergerak cepat merespons eskalasi bencana kekeringan yang melanda wilayah timur Pulau Madura. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyalurkan langsung bantuan air bersih kepada masyarakat di Dusun Marang, Desa Larangan Barma, Kabupaten Sumenep, pada Kamis (15/10/2026). Intervensi tanggap darurat ini digulirkan guna meringankan beban warga yang mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau ekstrem.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa pendistribusian air bersih ini merupakan wujud kehadiran dan gerak cepat pemerintah dalam melindungi masyarakat terdampak. Wilayah Kabupaten Sumenep sendiri telah resmi menetapkan status darurat kekeringan menyusul menyusutnya debit sumur dan sumber mata air warga secara drastis.
“Kabupaten Sumenep ini jadi salah satu dari 25 Kabupaten yang mengeluarkan status darurat kekeringan. Hari ini di Desa Marang kita dropping air bersih, ada dua truk tangki dan 13 unit tandon air,” ungkap Khofifah saat meninjau langsung proses pengisian air di lokasi penampungan warga, Kamis (15/10/2026).
Opsi Permanen: Siapkan Pembangunan Sumur Bor Awal 2027
Khofifah menggarisbawahi bahwa penanganan krisis air bersih tidak boleh berhenti pada operasi darurat jangka pendek semata. Menghadapi siklus kekeringan yang berulang setiap tahun, Pemprov Jatim menyiapkan kajian geologis dan teknis untuk menghadirkan infrastruktur air bersih yang berkelanjutan melalui pengeboran air tanah dalam.
“Kita identifikasi, kalau ada opsi sumur bor akan kita upayakan. Kalau memang memungkinkan, kita sediakan di awal 2027, sebelum musim kemarau tahun depan kami upayakan,” tegas mantan Menteri Sosial tersebut.
Kehadiran armada tangki air disambut antusias dan haru oleh masyarakat setempat. Salah seorang warga Dusun Marang, Sudi, menyampaikan rasa syukur mendalam atas respons tanggap Pemprov Jatim. Pasalnya, ketiadaan sumber air bersih telah menjadi momok menahun yang mengganggu sanitasi dan kebutuhan minum keluarga setiap kali kemarau tiba.
“Alhamdulillah, sangat senang mendapat bantuan air bersih ini. Setiap tahun saat musim kemarau, kami pasti kekurangan air bersih,” tutur Sudi.
Kekeringan Landa 70 Desa, Pemprov Kucurkan Bantuan Rp130 Juta
Berdasarkan data kebencanaan terkini, dampak kemarau di Kabupaten Sumenep tergolong masif. Bencana kekeringan dilaporkan melanda sedikitnya 70 desa dengan total populasi terdampak mencapai 271.017 jiwa yang tersebar di wilayah daratan maupun kepulauan.
Guna memperkuat mata rantai distribusi logistik air di lapangan, Pemprov Jatim mengucurkan alokasi anggaran penanganan kekeringan sebesar Rp130 juta khusus bagi Kabupaten Sumenep. Dukungan finansial tersebut diperkuat dengan distribusi sarana prasarana penampungan air secara terpadu, meliputi:
- 540 unit jeriken: Masing-masing berkapasitas 15 liter untuk memudahkan warga mengangkut air ke rumah.
- 90 unit tandon air: Berkapasitas 1.200 liter sebagai wadah penampungan komunal di titik-titik permukiman padat.
- 200 lembar terpal: Untuk pembuatan kantong penampungan air darurat di lingkungan desa.
Sinergi pasokan logistik dan perencanaan sumur bor ini diharapkan mampu memutus rantai kerentanan krisis air di Sumenep, sehingga masyarakat dapat menjalani aktivitas harian secara layak tanpa terancam ketiadaan akses sanitasi mendasar.












