Intisari Berita:
- Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 membukukan perputaran ekonomi Rp74,78 miliar dan sumbang PDRB Rp41,47 miliar berdasarkan kajian LPEP FEB Unair.
- Diikuti hampir 11 ribu peserta lokal hingga mancanegara, ajang sport tourism tahun ketiga ini sukses mendongkrak okupansi hotel, transportasi, dan UMKM.
- Lomba sempat dihentikan panitia demi keselamatan saat indikator panas WBGT menyentuh 48 derajat Celsius; kategori Full Marathon dimenangi Imanuel Hutasoit dan Inarotul Carifah.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Perhelatan akbar Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 tidak sekadar menjadi panggung kompetisi lari bergengsi, melainkan sukses menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi Kota Pahlawan. Berdasarkan hasil kajian Lembaga Penelitian Ekonomi dan Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEP FEB) Universitas Airlangga, agenda olahraga massal tersebut mencatatkan perputaran aktivitas ekonomi menyentuh angka fantastis Rp74,78 miliar.
Ajang yang memasuki edisi ketiga ini dipusatkan di kawasan Balai Kota Surabaya pada Minggu (4/10/2026). Perlombaan menyedot hampir 11 ribu pelari dari Surabaya, berbagai provinsi di Indonesia, hingga atlet mancanegara. Lonjakan transaksi ekonomi tercipta lewat rantai belanja peserta dan ofisial panitia pada sektor akomodasi, transportasi, logistik konsumsi, belanja ritel, hingga aneka operasional penunjang.
Kontribusi Rp41,47 Miliar ke PDRB Surabaya dan Daya Tarik Pelari Luar Kota
Selain menggerakkan likuiditas pasar, riset komprehensif LPEP FEB Unair mengestimasi kontribusi langsung Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya mencapai Rp41,47 miliar.
Kepala Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPEP FEB Universitas Airlangga, Atik Purmiyati, memaparkan signifikansi kontribusi ekonomi tersebut terhadap struktur pendapatan daerah.
“Selain perputaran aktivitas kegiatan ekonomi, kajian LPEP FEB Universitas Airlangga juga mengestimasi kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya sebesar Rp41,47 miliar. Nilai tersebut merepresentasikan pembentukan nilai tambah ekonomi melalui aktivitas produksi dan kompensasi tenaga kerja,” ungkap Atik Purmiyati.
Tingginya dampak ekonomi ini didorong oleh komposisi peserta yang solid. Berdasarkan data resmi penyelenggara, sebanyak 61,11 persen pelari berdomisili di Surabaya, sementara 38,89 persen merupakan kontingen luar daerah. Arus kedatangan pelari luar kota ini secara masif meningkatkan keterisian kamar hotel, perputaran armada transportasi publik, wisata kuliner, serta destinasi pelesir lokal.
Apresiasi Eri Cahyadi: Wacanakan Gelaran Dua Hari pada 2027
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyambut gembira dampak berganda (multiplier effect) yang ditimbulkan oleh ajang lari tahunan ini bagi perekonomian warga dan pelaku usaha lokal.
“Matur nuwun kali ini diadakan kembali Surabaya ISOPLUS Marathon 2026. Ini membuktikan bahwa Surabaya menjadi salah satu kota pilihan untuk lari marathon di Indonesia. Dampaknya sangat luar biasa perputaran ekonominya,” ujar Eri Cahyadi di lokasi acara.
Melihat besarnya antusiasme publik dan perputaran transaksi UMKM, Eri mendorong agar durasi penyelenggaraan pada tahun berikutnya diperluas layaknya kota-kota maraton dunia.
“Semoga tahun depan lebih baik lagi, mungkin tidak hanya 1 hari tetapi 2 hari seperti yang terjadi di kota lain,” lanjut sang wali kota.
Tahun ini, kompetisi mempertandingkan lima nomor perlombaan berstandar resmi, meliputi Full Marathon 42,195K, Half Marathon 21K, 10K, 5K, serta Kids Dash.
Tantangan Cuaca Ekstrem WBGT 48 Derajat Celsius dan Daftar Juara
Kendati atmosfer partisipasi berlangsung meriah, jalannya kompetisi dihadapkan pada dinamika cuaca tropis yang dinamis. Tim panitia menerapkan pemantauan ketat menggunakan indikator Wet Bulb Global Temperature (WBGT). Pada saat pelepasan flag-off kategori Full Marathon pukul 04.00 WIB dini hari, suhu udara tercatat bersahabat di angka 26,1 derajat Celsius dengan kelembapan 86,6 persen.
Namun, saat jarum jam bergerak menjelang siang, indikator radiasi panas dan kelembapan WBGT terpantau melonjak ekstrem di kisaran 42–44 derajat Celsius, bahkan sempat menyentuh level kritis 48 derajat Celsius. Demi mengutamakan proteksi keselamatan jiwa dan kesehatan para pelari, pihak panitia setelah berkoordinasi intensif dengan tim medis memutuskan menghentikan perlombaan lebih awal.
Imanuel Hutasoit dan Inarotul Carifah Rajai Kategori Full Marathon
Di balik ketatnya tantangan alam, ajang ini tetap melahirkan torehan prestasi membanggakan. Podium tertinggi nomor Full Marathon putra diraih oleh pelari nasional Imanuel Hutasoit yang sukses menyentuh garis finis dengan catatan waktu impresif 2 jam 34 menit 19 detik (2:34:19).
Sementara itu, di sektor Full Marathon putri, Inarotul Carifah keluar sebagai kampiun utama usai membukukan catatan waktu finis 3 jam 34 menit 19 detik (3:34:19).
Dengan keterlibatan hampir 11 ribu pelari dan injeksi puluhan miliar rupiah ke kas perekonomian daerah, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 berhasil membuktikan diri sebagai motor penggerak sport tourism sekaligus memperkuat posisi tawar Surabaya sebagai destinasi maraton unggulan di tingkat regional.












