JAKARTA, Jatim Mandiri
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) mengacu model Programme for International Student Assessment (PISA), termasuk penggunaan bacaan panjang untuk mengukur kemampuan akademik murid. Sementara itu, 438.126 siswa di Jatim mengikuti TKA pada 26 Oktober–8 November 2026 dengan dukungan pengawasan dan antisipasi gangguan teknis.
Abdul Mu’ti menyampaikan hal itu setelah meninjau pelaksanaan TKA gelombang pertama di SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (26/10). “Kami juga menyampaikan tes TKA ini kami sesuaikan dengan model tes PISA. Jadi model tes PISA,” katanya seperti dikutip Antara.
Ia menjelaskan, bacaan panjang merupakan karakteristik soal yang sempat dikeluhkan peserta pada pelaksanaan tahun sebelumnya. “Kalau kemudian ada tahun lalu yang komplain kok soalnya panjang-panjang, ya memang begitu,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, TKA merupakan tes terstandar dengan validitas dan reliabilitas tinggi. Tingkat kesulitan soal bervariasi untuk mengukur kemampuan akademik secara objektif.
TKA tidak bertujuan menentukan murid berhasil atau gagal, melainkan memetakan mutu pendidikan dan menjadi dasar perbaikan pembelajaran. Asesmen mencakup assessment of learning untuk mengetahui kemampuan, assessment for learning sebagai dasar perbaikan, serta assessment as learning untuk penyempurnaan pembelajaran berkelanjutan.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin menegaskan, skor TKA jenjang SMA/MA/SMK menggunakan skala 200–800, bukan persentase jawaban benar.
“Penting dipahami bahwa metode pengukuran dan skala pelaporan merupakan dua hal berbeda,” katanya, Senin (26/10).
Metode Item Response Theory (IRT) dua parameter digunakan untuk memperkirakan kemampuan peserta berdasarkan karakteristik soal. Karena itu, skor 600 tidak berarti peserta menjawab benar 60 persen soal. Skor baru juga tidak dapat dikonversi ke skala lama melalui perkalian atau pembagian sederhana.
Hasil TKA dapat membantu sekolah dan orang tua mengidentifikasi kebutuhan pendampingan belajar. Perguruan tinggi juga dapat menggunakannya sebagai pelengkap nilai rapor dalam seleksi jalur prestasi sesuai ketentuan.
Di Jatim, Gubernur Khofifah Indar Parawansa meminta kesiapan komputer, internet, listrik, ruang tes, proktor, dan teknisi. Berdasarkan data pemutakhiran 16 Oktober, sebanyak 438.126 siswa atau 94,54 persen dari 463.397 calon peserta telah terdaftar.
“Pastikan komputer, jaringan internet, pasokan listrik, ruang tes, serta proktor dan teknisi benar-benar siap. Siapkan langkah antisipasi dan jalur pelaporan yang jelas agar setiap kendala dapat segera ditangani,” kata Khofifah.
Ia mengingatkan TKA bukan satu-satunya penentu masa depan siswa. “Jangan pernah merasa bahwa masa depan kalian hanya ditentukan oleh angka hasil ujian. Setiap anak memiliki kecerdasan, kelebihan, dan potensi yang berbeda. Yang terpenting adalah berusaha sungguh-sungguh, mengerjakan dengan jujur,” tuturnya.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, sekolah diminta menyiapkan UPS, genset jika memungkinkan, serta jalur komunikasi dengan helpdesk. Dinas juga menyurati PLN dan Telkom agar pemeliharaan jaringan tidak mengganggu ujian.
“Apabila terjadi gangguan listrik atau internet, murid tidak perlu panik. Petugas sekolah telah disiapkan untuk melakukan penanganan. Kami juga memastikan setiap kendala ditindaklanjuti sesuai prosedur agar hak murid untuk mengikuti TKA tetap terlindungi,” ucap Aries.
Di SMK YPM 8 Sidoarjo, 550 siswa mengikuti ujian dalam dua sesi. Pengawasan silang secara acak diterapkan dan peramban komputer dikunci untuk mencegah akses aplikasi lain. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Sidoarjo-Limbangan Kiswanto mengatakan, “Pengawasan acak dan silang dalam Tes Kemampuan Akademik ini disiagakan untuk menjamin integritas serta objektivitas hasil belajar siswa.”
Humas sekolah Ristiwi Peni menyebut pelaksanaan berlangsung kondusif, dengan listrik dan server berfungsi baik. Ujian berakhir tanpa gangguan teknis maupun pelanggaran tata tertib.
Kemendikdasmen menekankan pentingnya mutu soal, keamanan, aksesibilitas, dan kejelasan informasi agar hasil TKA menjadi bahan evaluasi pembelajaran, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan murid. (*/dea/ibn)













