Jember, Jatimmandiri.id – Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 semakin mengukuhkan reputasinya sebagai festival budaya bertaraf internasional. Salah satu buktinya adalah penguatan kolaborasi dengan Yayasan Sakuranesia Society dari Jepang yang tidak hanya menghadirkan pertukaran budaya, tetapi juga membuka peluang kerja sama di bidang seni, pendidikan, dan kreativitas lintas negara.
Kemitraan tersebut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan JFC 2026 yang mengusung tema HEAL (Humanity, Earth, and Life). Sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan acara, Yayasan Sakuranesia Society terlibat aktif dalam pengembangan konsep yang mengangkat semangat pemulihan, persahabatan, dan kolaborasi internasional.
Pendiri Yayasan Sakuranesia Society, Tomomi Sakura Ijuin, memperkenalkan filosofi tradisional Jepang Kintsugi, yakni seni memperbaiki benda yang retak menggunakan emas sebagai simbol bahwa setiap luka dan tantangan dapat menjadi kekuatan untuk bangkit dan melahirkan sesuatu yang lebih bernilai.
Menurut Tomomi, filosofi tersebut memiliki keselarasan dengan tema HEAL yang diangkat JFC tahun ini.
“Saya sangat senang bisa kembali menjadi bagian dari Jember Fashion Carnaval 2026. JFC bukan hanya sebuah pertunjukan fesyen, tetapi juga ruang yang mempertemukan seni, budaya, dan persahabatan antarbangsa. Saya melihat semangat, kreativitas, dan kerja keras masyarakat Jember yang luar biasa,” jelasnya kepada Jatim Mandiri.
Tomomi menegaskan Yayasan Sakuranesia Society berkomitmen terus mendukung perkembangan JFC agar semakin dikenal di berbagai negara.
“Melalui Yayasan Sakuranesia Society, kami akan terus mendukung JFC agar semakin dikenal dunia. Filosofi Kintsugi yang kami bawa sejalan dengan tema HEAL, yaitu bahwa setiap tantangan dapat menjadi kekuatan untuk bangkit dan menciptakan sesuatu yang indah. Saya berharap kerja sama antara Indonesia dan Jepang terus berkembang melalui seni, pendidikan, dan budaya,” terangnya.
Dukungan tersebut juga diwujudkan dengan menghadirkan sekitar 100 tamu dan delegasi dari Jepang pada pembukaan JFC 2026 di Kabupaten Jember. Kehadiran rombongan itu menjadi salah satu bentuk kepercayaan sekaligus dukungan internasional terhadap perkembangan JFC sebagai ikon budaya Indonesia.
Kolaborasi Indonesia-Jepang juga diperkuat melalui pembentukan Komite JUKU, hasil kerja sama Yayasan Sakuranesia Society dengan Universitas Jember. Program ini dirancang sebagai wadah pertukaran budaya, pendidikan, serta pengembangan kreativitas generasi muda kedua negara agar mampu berkolaborasi di tingkat global.
Tak hanya berlangsung di Indonesia, sinergi tersebut juga dibawa ke panggung internasional. JFC bersama Sakuranesia Society tampil dalam Shibuya Sakura Matsuri 2026 di Tokyo sebagai bagian dari promosi budaya Indonesia kepada masyarakat dunia sekaligus memperkuat posisi JFC sebagai salah satu festival karnaval bergengsi di tingkat internasional.
Di akhir pernyataannya, Tomomi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan JFC 2026.
“Saya mengucapkan selamat kepada seluruh panitia, para desainer, relawan, dan masyarakat Jember. Semoga JFC terus tumbuh menjadi festival budaya kelas dunia yang mampu menginspirasi banyak negara serta membawa nama Indonesia semakin harum di mata internasional,” pungkasnya.
Sebagai informasi, nama Sakura juga dikenal melalui Sakura Color Products Corporation, perusahaan alat tulis asal Osaka, Jepang, yang memproduksi krayon dan drawing pen. Namun, keterlibatan dalam JFC 2026 berasal dari Yayasan Sakuranesia Society, organisasi budaya yang didirikan oleh Tomomi Sakura.












