Budapest, Jatimmandiri.id – Paris Saint-Germain (PSG) mencatat sejarah baru di kompetisi antarklub Eropa setelah berhasil mempertahankan gelar Liga Champions secara beruntun. Klub asal Prancis itu mengalahkan Arsenal melalui drama adu penalti dengan skor 4-3 pada final yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, Sabtu (30/5/2026).
Laga final berlangsung sengit dan berakhir imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu usai. Penentuan juara pun harus dilakukan melalui adu penalti.
PSG memastikan kemenangan setelah eksekusi penalti bek Arsenal, Gabriel Magalhães, melambung di atas mistar gawang. Kegagalan tersebut membuat Les Parisiens sukses mempertahankan trofi Liga Champions yang mereka raih musim lalu.
Bagi Arsenal, kekalahan ini memperpanjang penantian mereka untuk meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Meski sukses mengakhiri puasa gelar Liga Inggris selama 22 tahun pada musim ini, trofi Eropa masih belum berhasil mereka genggam.
Keberhasilan tersebut menjadikan PSG sebagai klub kedua yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions sejak kompetisi berganti format pada 1992. Sebelumnya, pencapaian serupa hanya diraih Real Madrid yang menjuarai kompetisi ini tiga kali berturut-turut pada periode 2016 hingga 2018.
Secara keseluruhan, PSG menjadi tim ke-10 dalam sejarah Piala Eropa sejak 1955 yang mampu meraih gelar juara secara beruntun.
Kapten PSG, Marquinhos, mengaku bangga dengan pencapaian timnya.”Ini luar biasa. Sejak awal musim, pelatih sudah mengatakan bahwa menjadi juara itu sulit, dan mempertahankan gelar jauh lebih sulit. Karena itu kami harus bekerja lebih keras dan menjaga mentalitas juara,” ujar Marquinhos.
Kesuksesan PSG juga mengukuhkan reputasi pelatih Luis Enrique sebagai salah satu juru taktik terbaik di Eropa. Pelatih asal Spanyol tersebut kini telah mengoleksi tiga gelar Liga Champions setelah sebelumnya membawa Barcelona menjadi juara pada musim 2014/2015.
Dengan torehan itu, Luis Enrique masuk dalam daftar elite pelatih yang meraih tiga gelar atau lebih di kompetisi tertinggi Eropa. Ia sejajar dengan Pep Guardiola, Zinédine Zidane, dan Bob Paisley yang mengoleksi tiga trofi, sementara rekor terbanyak masih dipegang Carlo Ancelotti dengan lima gelar.
Arsenal Sempat Unggul Lebih Dulu
Arsenal membuka keunggulan lebih dahulu pada babak pertama. Berawal dari sapuan bola Marquinhos yang kurang sempurna, bola mengarah ke Leandro Trossard sebelum diteruskan kepada Kai Havertz.
Penyerang asal Jerman itu kemudian melakukan penetrasi dari tengah lapangan dan melepaskan tembakan dari sudut sempit yang gagal diantisipasi kiper PSG.
Namun keunggulan Arsenal tidak bertahan lama. Pada babak kedua, PSG berhasil menyamakan skor setelah Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan Cristhian Mosquera di dalam kotak penalti.
Setelah melalui pemeriksaan VAR, wasit menunjuk titik putih. Pemenang Ballon d’Or, Ousmane Dembélé, sukses menjalankan tugasnya dan mengecoh kiper Arsenal, David Raya, untuk mengubah skor menjadi 1-1.
Meski mendominasi penguasaan bola hingga mencapai 74 persen, PSG gagal mencetak gol tambahan sepanjang waktu normal maupun babak tambahan.
Final pun berlanjut ke adu penalti, yang menjadi pertama kalinya dalam satu dekade terakhir final Liga Champions ditentukan lewat tos-tosan sejak Real Madrid mengalahkan Atlético Madrid pada 2016.
Di babak adu penalti, Arsenal sempat mendapatkan harapan setelah David Raya menggagalkan tendangan Nuno Mendes. Namun kegagalan Eberechi Eze dan Gabriel Magalhães akhirnya membuat PSG keluar sebagai pemenang.
Lucas Beraldo sukses mencetak gol pada penalti terakhir PSG, sementara Gabriel yang menjadi algojo penentu Arsenal gagal menjalankan tugasnya dengan baik.
Sorak-sorai pendukung PSG langsung pecah saat bola melambung di atas mistar. Marquinhos kemudian mengangkat trofi Liga Champions untuk kedua kalinya di tengah pesta kembang api dan hujan konfeti emas yang menghiasi Puskas Arena.
PSG Bidik Hattrick Gelar Liga Champions
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turut menyampaikan ucapan selamat kepada PSG melalui media sosial.”Bintang baru bersinar di atas Paris. Kalian membuat seluruh Eropa bermimpi. Prancis bangga,” tulis Macron.
Setelah sukses mempertahankan gelar, target berikutnya PSG adalah menyamai pencapaian Real Madrid yang mampu meraih tiga gelar Liga Champions secara beruntun.
Dengan rata-rata usia pemain inti yang masih di bawah 24 tahun, PSG dinilai memiliki potensi besar untuk mendominasi sepak bola Eropa dalam beberapa musim mendatang.
Gelandang muda PSG, Désiré Doué, menegaskan timnya belum puas dengan pencapaian saat ini.”Ini luar biasa. Kami akan menikmati momen ini terlebih dahulu, lalu kembali bekerja keras. Kami masih lapar akan gelar. Kami adalah tim muda yang penuh ambisi dan musim depan kami ingin mengulanginya lagi,” tegas Doué.












