Jakarta, Jatimmandiri.id – Santri kini mendapat peluang lebih luas untuk mengasah keterampilan kerja dan kewirausahaan. Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama menggandeng Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) membuka pelatihan vokasi bagi santri, alumni pesantren, pengelola unit usaha pesantren, hingga masyarakat di sekitar pesantren.
Program tersebut menggunakan skema Tailor Made Training (TMT) yang dikembangkan Kemnaker melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang. Pelatihan menjadi bagian dari Program Pelatihan Vokasi Nasional dan Program Stimulus Ekonomi Semester II Tahun Anggaran 2026.
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said mengatakan keterampilan vokasi penting untuk memperkuat peran pesantren yang tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.
“Pesantren tidak hanya memiliki fungsi pendidikan dan dakwah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Karena itu, kita perlu membuka ruang kolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga agar potensi pesantren, santri, dan alumninya dapat dikembangkan secara optimal,” ujar Basnang di Jakarta, Rabu.
Menurut Basnang, bekal keterampilan dapat menjadi modal santri setelah menyelesaikan pendidikan. Keahlian tersebut dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja, membangun usaha sendiri, maupun mengembangkan unit usaha yang sudah berjalan di lingkungan pesantren.
“Harapannya, santri tidak hanya memiliki bekal keilmuan, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha. Dengan begitu, pesantren semakin kuat dalam menjalankan fungsi pemberdayaannya,” kata dia.
Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti mengatakan keunggulan skema TMT terletak pada fleksibilitas materi pelatihannya. Pesantren dapat memetakan potensi, kebutuhan masyarakat, maupun peluang kerja di wilayah masing-masing sebelum mengusulkan jenis pelatihan.
“Pendekatan tailor made ini memungkinkan pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pesantren. Jadi, programnya tidak harus seragam. Kita bisa melihat potensi unit usaha, kebutuhan masyarakat, maupun peluang kerja di wilayah sekitar pesantren,” kata Yusi.
Peserta pelatihan juga tidak dibatasi hanya untuk santri tingkat akhir. Alumni yang belum bekerja atau ingin berganti pekerjaan dapat mengikuti program tersebut. Kesempatan serupa terbuka bagi ustaz, pengelola unit usaha pesantren, serta masyarakat sekitar.
Target akhirnya mencakup terbentuknya peserta yang siap memasuki dunia kerja, mampu berwirausaha, sekaligus mendorong berkembangnya unit usaha pesantren.
Kepala BBPVP Serang Kemnaker Ady Nugroho mengatakan Program Pelatihan Vokasi Nasional menargetkan 270.000 peserta sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 126.442 peserta dialokasikan khusus melalui skema TMT.
Pelaksanaan program disalurkan melalui 21 unit pelaksana teknis pelatihan vokasi Kemnaker dan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026.
“Tailor made berarti pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan. Pesantren bisa mengusulkan jenis pelatihan yang memang dibutuhkan dan memiliki peluang kebekerjaan di wilayahnya,” ujar Ady.
Jenis pelatihan yang tersedia cukup beragam, antara lain barista, menjahit, digital marketing, otomotif, teknik listrik, hingga operator alat berat. Pemerintah melalui BBPVP memfasilitasi kebutuhan pelatihan tersebut.
Peserta tidak dikenai biaya. Selain mengikuti pelatihan, mereka memperoleh uang saku Rp50.000 per hari dan konsumsi selama kegiatan.












