Jakarta, Jatim Mandiri
Kapten ONIC Esports, Nicky “Kiboy” Fernando, menilai rivalitas melawan RRQ Hoshi dalam Mobile Legends Professional League Indonesia (MPL ID) Season 18 tak lagi menghadirkan emosi sebesar beberapa musim sebelumnya.
Pergantian generasi pemain dan perubahan atmosfer persaingan membuat Royal Derby, sebutan duel ONIC melawan RRQ, terasa berbeda dibandingkan masa puncaknya. “Royal Derby yang sekarang terasa kurang berkesan bagi saya. Rasanya seperti melawan tim-tim lainnya karena vibes, hype, dan orang-orangnya juga sudah banyak yang baru,” ujar Kiboy dalam wawancara bersama Esports ID.
Pemain veteran ONIC tersebut menyebut MPL ID Season 8 hingga Season 10 sebagai periode paling membekas dalam perjalanan rivalitas kedua tim. Saat itu, pertandingan bukan sekadar perebutan kemenangan, tetapi juga menyangkut gengsi dan emosi antarpemain. Aksi saling taunting serta keinginan kuat untuk mengalahkan lawan membuat setiap pertemuan terasa istimewa.
“Dulu, bukan sekadar deg-degan, tetapi emosinya jauh lebih tinggi. Ada saling taunting dan kedua tim sama-sama tidak mau kalah. Jadi, ketika berhasil menang, rasanya benar-benar luar biasa,” ungkapnya.
Menurut catatan sembilan pertemuan terakhir yang dihimpun Esports ID, ONIC selalu mengungguli RRQ Hoshi. Pada Season 18, ONIC juga memenangi kedua pertemuan melawan rivalnya tersebut.
Dominasi itu turut memengaruhi pengalaman Kiboy saat menghadapi RRQ. “Kalau sekarang, menang ya sudah, begitu saja,” katanya. Meski atmosfernya berubah, Royal Derby tetap menjadi salah satu pertandingan yang menarik perhatian penggemar Mobile Legends Indonesia. Bagi Kiboy, sejarah persaingan dan pergantian generasi menjadi bagian dari dinamika rivalitas esports profesional. (bib/ibn)












