Jember, Jatimmandiri.id
Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 memasuki penyelenggaraan ke-24 dengan mengusung semangat kolaborasi dan inklusivitas.
Ketua JFC 2026, Budi Setiawan, mengatakan JFC tidak sekadar menjadi ajang parade kostum, tetapi juga gerakan budaya yang dibangun bersama seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, tema tahun ini menegaskan bahwa Jember bukan sekadar identitas sebuah acara, melainkan perjalanan panjang yang memerlukan keterlibatan semua pihak.
“JFC bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi hasil dari sebuah perjalanan panjang yang harus kita tuju bersama-sama. Harapan kami, JFC ke depan semakin inklusif dan menjadi wadah bagi semua kalangan untuk berkarya sekaligus mengenalkan culture atau budaya yang kita miliki,” ujar Budi kepada Jatimmandiri.id, Kamis malam (23/7/2026).

Budi mengatakan, penyelenggaraan JFC 2026 dirancang lebih terbuka dengan melibatkan komunitas, pelaku seni, generasi muda, dan masyarakat dalam setiap rangkaian kegiatan.
Menurut dia, keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat rasa memiliki terhadap JFC sebagai ikon Kabupaten Jember.
Selama 24 tahun penyelenggaraannya, JFC berkembang menjadi salah satu karnaval busana terbesar di Indonesia.
Ajang tersebut juga menjadi etalase promosi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif yang dikenal hingga mancanegara.
Selain menampilkan kostum spektakuler, JFC menjadi ruang untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia melalui pendekatan kreatif.
Pendekatan tersebut tetap mempertahankan identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Melalui semangat kolaborasi, penyelenggara berharap JFC tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga memberikan dampak bagi pariwisata, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya di Kabupaten Jember.
Penyelenggara juga mengajak pemerintah, komunitas kreatif, pelaku seni, dan masyarakat terus bersinergi membesarkan JFC agar semakin dikenal di tingkat dunia serta memberi manfaat bagi daerah.












