InfrastrukturJatim

Jelang Musim Hujan 2025 , Surabaya Terjunkan Armada PMK untuk Atasi Genangan Surabaya

×

Jelang Musim Hujan 2025 , Surabaya Terjunkan Armada PMK untuk Atasi Genangan Surabaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA – jatimmandiri.id | Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempercepat penyelesaian proyek drainase di berbagai wilayah sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026. Selain mempercepat pembangunan infrastruktur, Pemkot juga menyiagakan puluhan armada Pemadam Kebakaran (PMK) untuk membantu mengurangi potensi genangan selama proyek masih berlangsung.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa percepatan pembangunan drainase menjadi salah satu prioritas utama pemerintah kota dalam upaya mewujudkan Surabaya bebas banjir dan genangan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Menurutnya, sebagian besar pekerjaan drainase ditargetkan rampung pada akhir November 2025 sehingga sistem pengendalian air dapat berfungsi optimal saat intensitas hujan mulai meningkat.

“Insyaallah di akhir November selesai semua. Tapi alhamdulillah di Oktober sudah hujan. Nah berarti apa, strategi saya untuk menahan agar tidak terjadi genangan, kita keluarkan yang namanya mobil-mobil PMK,” kata Eri Cahyadi, Selasa (4/11/2025).

Sebagai langkah mitigasi sementara, Pemkot Surabaya mengerahkan sekitar 28 unit mobil PMK yang akan disiagakan di berbagai titik rawan genangan setiap kali hujan deras mengguyur Kota Pahlawan.

Armada tersebut difungsikan sebagai pompa bergerak untuk mempercepat pembuangan air dari kawasan yang berpotensi tergenang sebelum seluruh proyek drainase selesai dikerjakan.

“Kita punya 28 unit, keluar semua setiap hujan. Dan ini moga-moga insyaallah sampai akhir November kita bisa mengatasi itu, sehingga ketika ini jadi semua, bisa selesai,” ujarnya.

Eri menyebut sejumlah kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai titik banjir kini mulai menunjukkan perubahan signifikan setelah dilakukan perbaikan sistem drainase dan saluran air.

Ia mencontohkan wilayah Pakal yang selama lebih dari tiga dekade kerap mengalami banjir kini mulai terbebas dari genangan. Begitu pula kawasan Dukuh Kupang yang menurutnya telah berhasil ditangani setelah sekitar 50 tahun menjadi langganan banjir.

Baca Juga  Jalan Rawan Rob di Brebes Diperbaiki, Proyek Inpres Jalan Daerah Ditargetkan Selesai Juni 2026

“Saya kasih contoh di Pakal puluhan tahun banjir, 30 tahun bisa selesai. Yang namanya Dukuh Kupang itu lima puluh tahun, hari ini bisa selesai, tidak banjir,” tuturnya.

Meski demikian, Eri mengakui masih terdapat sejumlah wilayah yang penanganannya belum maksimal karena terkendala penolakan sebagian warga terhadap pembangunan saluran drainase baru.

Salah satu contohnya berada di Kecamatan Sukomanunggal. Menurutnya, penolakan terhadap pembangunan saluran air justru berpotensi memperparah persoalan banjir di kawasan tersebut.

“Kayak di Kecamatan Sukomanunggal itu warga tidak mau dibuatkan saluran, akhirnya banjir. Makanya saya bilang tahun depan harus mau. Bagaimana camat dan lurah bisa meyakinkan bahwa ketika dibuatkan saluran maka tidak menjadikan banjir,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Syamsul Hariadi, mengungkapkan bahwa progres pengerjaan proyek drainase hingga awal November 2025 telah mencapai sekitar 70 persen.

Menurutnya, sekitar 20 persen pekerjaan ditargetkan selesai pada akhir November, sedangkan sisanya akan dirampungkan pada Desember 2025.

“Untuk saat ini update kita, paket-paket pekerjaan drainase itu sudah 70 persen kita selesaikan. Kemudian yang 20 persen selesai di akhir November, sisanya insyaallah kita selesaikan di Desember,” kata Syamsul.

Saat ini, salah satu proyek terbesar yang masih berlangsung berada di kawasan Benowo, Surabaya Barat. Proyek tersebut membutuhkan penutupan total saluran drainase selama proses pengerjaan sehingga aliran air harus dialihkan menggunakan pompa portable sementara.

Kondisi tersebut menyebabkan beberapa wilayah di sekitar lokasi proyek masih memiliki potensi genangan ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi sebelum proyek selesai.

“Yang sampai Desember itu proyek-proyek besar. Seperti drainase Benowo, itu harus kita selesaikan karena untuk pengerjaan proyek besar ini kita harus menutup total salurannya,” jelasnya.

Baca Juga  Dugaan Pembegalan Driver inDrive di Gresik, Perusahaan Siap Bantu Penyelidikan Polisi

Ia menambahkan, kawasan Pondok Benowo Indah (PBI) menjadi salah satu wilayah yang masih perlu mendapat perhatian selama proses pembangunan berlangsung.

“Mungkin di sekitaran PBI itu ada potensi genangan kalau tidak selesai,” ujarnya.

Untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem, DSDABM terus berkoordinasi dengan BMKG dan mengoptimalkan sistem peringatan dini cuaca. Informasi prakiraan hujan yang diterima beberapa jam sebelum kejadian akan menjadi dasar bagi petugas untuk mengaktifkan seluruh sistem pengendalian banjir.

Syamsul memastikan seluruh rumah pompa, petugas lapangan, dan armada pendukung telah disiagakan agar dapat merespons cepat ketika hujan deras mulai turun.

“Kalau jam-jaman itu biasanya ada peringatan dua jam, tiga jam sebelumnya dari BMKG, kita harus sudah siap semua. Kira-kira ada awan hujan mau mengarah ke mana, itu teman-teman harus sudah siap semua. Lewat HT kita komunikasi, rumah pompa semua dikosongkan salurannya,” pungkasnya.

Dengan percepatan pembangunan drainase dan kesiapan seluruh infrastruktur pengendalian banjir, Pemkot Surabaya optimistis mampu meminimalkan risiko genangan saat memasuki puncak musim hujan awal tahun 2026.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *