Surabaya, Jatimmandiri.id – Memasuki Tahun Pelajaran 2026/2027, SDN Wonokusumo VI/45 Surabaya menghadirkan atmosfer yang berbeda dan penuh kejutan dalam pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (13/7/2026).
Mengangkat tema yang visioner, sekolah dasar ini menyulap lingkungan belajar mereka menjadi replika belantara hutan yang ramah anak dan interaktif.
Suasana petualangan langsung terasa begitu siswa baru menginjakkan kaki di gerbang sekolah. Dekorasi hijau nan asri khas hutan tropis menghiasi setiap sudut.
Ketegangan hari pertama sekolah pun seketika mencair berkat kehadiran Dino, sebuah maskot T-Rex jenaka yang menyambut dan mengajak anak-anak berinteraksi dengan ceria.
Ketua Panitia MPLS 2026 SDN Wonokusumo VI/45 Surabaya, Nur Fitriyah SPdI, mengungkapkan bahwa konsep unik ini sengaja dirancang untuk menyelaraskan tema besar tahun ini.
Yakni, Menjelajah Belantara Ilmu, Menuju Generasi Emas Negeri 45.
“MPLS merupakan gerbang awal bagi peserta didik baru untuk mengenal lingkungan sekolah, beradaptasi dengan warga sekolah, serta memahami budaya dan tata tertib yang berlaku. Kami ingin menciptakan rasa nyaman, aman, dan percaya diri sejak hari pertama,” ujar Nur Fitriyah.
Ia menambahkan, tema belantara ilmu ini menggambarkan semangat siswa sebagai penjelajah muda yang siap mencari, mempelajari, dan mengembangkan pengetahuan demi meraih masa depan yang gemilang.
Di era modern ini, tantangan dunia pendidikan formal kian dinamis.
Kepala SDN Wonokusumo VI/45 Surabaya, Riyo Darminto MPd, menegaskan bahwa MPLS tahun ini memiliki misi khusus yang berfokus pada pembentukan karakter dasar anak melalui penanaman 7 Kebiasaan Baik.
Tujuh pilar karakter yang diadopsi sekolah meliputi bangun pagi, salat, olahraga, makan bergizi, belajar dengan benar, tidur tepat waktu, dan bersosialisasi
Dari ketujuh poin tersebut, Riyo menggarisbawahi bahwa aspek bersosialisasi menjadi prioritas utama yang paling ditekankan.
“Sasaran didik kita saat ini sudah memasuki era Gen Alfa. Tantangan terbesar anak-anak zaman sekarang adalah kecenderungan kurang peduli dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Padahal, sepintar apa pun kita, kalau tidak bisa berkomunikasi dan bermasyarakat, ya akan sia-sia. Pada akhirnya, hidup kita ini kan berada di tengah masyarakat,” jelas Riyo.
Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, Riyo memaparkan bahwa selama masa MPLS, anak-anak tidak hanya duduk di kelas, melainkan dikenalkan pada kekayaan seni dan budaya serta berbagai aktivitas motorik.
Langkah ini sengaja diambil untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap Nusantara sejak dini.
Melalui rangkaian kegiatan MPLS yang edukatif dan menyenangkan ini, SDN Wonokusumo VI/45 Surabaya berharap seluruh peserta didik baru dapat melewati proses transisi dengan optimal.
Bukan sekadar mengenal bangunan fisik sekolah, kegiatan ini diproyeksikan mampu menumbuhkan karakter positif, mendongkrak semangat belajar, serta membangun ikatan kebersamaan yang kuat antara siswa, guru, dan sesama teman.
“Dengan pondasi ini, SDN Wonokusumo VI siap mencetak siswa-siswi yang tumbuh sebagai Generasi Emas Negeri 45 yang berakhlak mulia, berprestasi, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan,” tuntas Riyo.












