Surabaya, Jatimmandiri.id — Sebanyak 310 guru SD dan SMP se-Kota Surabaya resmi memulai langkah transformatif dalam dunia mengajar.
Melalui kerja sama strategis antara Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, ratusan pendidik ini mengikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru yang digelar secara hibrida (luring dan daring) selama tiga hari, dimulai Selasa (7/7).
Mengusung tema Transformasi Pembelajaran di Era Digital untuk Mewujudkan Guru Inovatif dan Berdampak, agenda ini dirancang sebagai pilar penting untuk menyokong transformasi pendidikan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045 melalui penguatan kompetensi digital guru, khususnya dalam pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).
Selama pelatihan, para peserta tidak hanya disuguhi teori, melainkan langsung dibekali keterampilan taktis.
Mereka dilatih menyusun bahan ajar digital, merancang media pembelajaran interaktif, hingga membangun Learning Management System (LMS) berbasis AI.
Menariknya, seluruh platform inovatif ini dapat dioperasikan tanpa menuntut kemampuan pemrograman (coding) sama sekali.
Kendati demikian, integrasi teknologi ini tetap mengedepankan kebijaksanaan agar peran utama guru sebagai pendidik tidak tergantikan.
Salah satu materi yang paling memantik antusiasme peserta adalah Science Storybook Berbantuan AI.
Metode ini dipaparkan oleh dosen Program Magister Pendidikan Dasar Unusa, Dr Asmaul Lutfauziah.
Melalui konsep ini, materi sains yang kerap dianggap rumit dikemas menjadi narasi kreatif yang dekat dengan keseharian anak, di mana AI berperan mempercepat penyusunan cerita dan ilustrasi visualnya.
“Anak-anak pada dasarnya menyukai cerita. Ketika konsep sains dikemas dalam bentuk cerita yang menarik, mereka lebih mudah memahami sekaligus mengingat materi. AI dapat membantu guru mempercepat penyusunan bahan ajar, namun kreativitas dan sentuhan pedagogis tetap berada di tangan guru,” jelas Asmaul.
Di sisi lain, Dekan FKIP Unusa, Dr Nafiah, memimpin sesi praktis mengenai pembuatan kelas digital, pengelolaan materi, kuis, hingga forum diskusi interaktif berbasis AI dan LMS.
Ia menekankan bahwa adopsi teknologi harus berjalan beriringan dengan pemahaman mendalam terhadap karakter siswa.
Menurut Nafiah, perkembangan AI menuntut guru menjadi pemimpin transformasi pembelajaran, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.
Karena itu, penguasaan AI harus dibarengi kemampuan pedagogis agar pembelajaran tetap berpusat pada peserta didik.
“Melalui sinergi ini, Unusa berharap para peserta mampu kembali ke instansi masing-masing sebagai agen transformasi digital. Kelas-kelas di Surabaya diharapkan tumbuh menjadi ruang belajar yang lebih interaktif, kreatif, dan berdampak, tanpa sedikit pun menanggalkan nilai-nilai humanis yang menjadi hakikat tertinggi dari pendidikan,” tutur Nafiah.




