Jakarta, Jatimmandiri.id – Tekanan harga telur ayam ras di tingkat peternak mendorong pemerintah mempercepat intervensi pasar melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan. ID FOOD dan Perum Bulog menyiapkan dana Rp30 miliar untuk menyerap produksi peternak mikro dan kecil sekaligus menjaga stabilitas harga serta kepastian penjualan.
Direktur Utama ID FOOD Ghimoyo mengatakan, program yang didorong Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) tersebut menjadi langkah konkret menjaga keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
“Ketika harga telur di tingkat peternak mengalami tekanan, diperlukan langkah bersama untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka,” kata Ghimoyo di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Dalam program tersebut, ID FOOD dan Bulog masing-masing menyiapkan anggaran Rp15 miliar. Penyerapan diprioritaskan bagi peternak mikro dan kecil, termasuk anggota koperasi serta asosiasi, terutama di daerah yang mengalami penurunan harga.
Program telah berjalan sejak akhir Oktober 2026. Hingga 3 November, ID FOOD telah membeli 153.600 kilogram atau 153,6 ton telur dengan nilai transaksi Rp3,433 miliar. Realisasi itu merupakan bagian dari alokasi Rp15 miliar yang ditargetkan terserap sepanjang November. Masih tersedia sekitar Rp11,567 miliar untuk penyerapan berikutnya.
“Penyerapan akan terus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan pasokan, kebutuhan pasar, serta kelancaran distribusi. Kami berupaya mempercepat realisasinya agar manfaat program dapat segera dirasakan oleh peternak, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil,” jelasnya.
Pelaksanaan program melibatkan Kementan, Bapanas, Badan Gizi Nasional (BGN), ID FOOD, Bulog, koperasi, dan asosiasi peternak. Penyerapan menyasar sentra produksi di Jawa, Lampung, dan Sulawesi Selatan dengan harga pembelian minimal Rp24.000 per kilogram.
Selain pembelian, ID FOOD mengoptimalkan jaringan perdagangan, armada pengangkutan, dan saluran pemasaran. Langkah ini penting karena telur memiliki masa simpan terbatas sehingga harus segera didistribusikan kepada konsumen.
“Penyerapan tidak hanya berfokus pada pembelian telur dari peternak, tetapi juga memastikan produk yang diserap memiliki saluran pemasaran yang jelas. Karena itu, kecepatan distribusi dan kepastian pasar menjadi faktor penting agar program ini berjalan efektif dan berkelanjutan,” kata Ghimoyo.
Ia berharap sinergi tersebut memperkuat hubungan sentra produksi dengan pasar dan menciptakan ekosistem pangan berkelanjutan.
“Sinergi yang terbangun juga diharapkan semakin memperkuat keterhubungan antara sentra produksi dan pasar, sehingga tercipta ekosistem pangan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyebut penyerapan telur oleh BUMN pangan merupakan bagian dari pembangunan ekosistem peternakan ayam nasional. Upaya tersebut juga mencakup jaminan ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan.
Pemerintah berharap intervensi ini menjaga harga di tingkat produsen, memperlancar distribusi, dan melindungi keberlanjutan usaha peternak rakyat.












