Nasional

Hadapi Ancaman AI, Menaker Ajak Negara Asia Pasifik Perkuat Pelatihan dan Keterampilan Tenaga Kerja

×

Hadapi Ancaman AI, Menaker Ajak Negara Asia Pasifik Perkuat Pelatihan dan Keterampilan Tenaga Kerja

Sebarkan artikel ini
Menaker Yassierli mengajak negara Asia Pasifik memperkuat pelatihan tenaga kerja untuk menghadapi disrupsi AI dan teknologi melalui kerja sama pengembangan keterampilan masa depan.
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengajak negara-negara anggota Asia Pacific Group (ASPAG) memperkuat kerja sama dalam pengembangan keterampilan dan pelatihan tenaga kerja guna menghadapi perubahan dunia kerja akibat disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ajakan tersebut disampaikan Yassierli saat menghadiri Asia Pacific Group Ministerial Meeting dalam rangkaian Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Menurut Menaker, tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak lagi dapat dihadapi oleh masing-masing negara secara sendiri-sendiri.

Dibutuhkan kolaborasi untuk saling bertukar pengalaman, kebijakan, serta praktik terbaik dalam mempersiapkan tenaga kerja yang mampu bersaing di era digital.

“Indonesia percaya bahwa kerja sama antarnegara kini semakin penting. Tantangan ketenagakerjaan tidak bisa dihadapi sendiri. Kekuatan kita ada pada kemauan untuk saling berbagi praktik baik dan saling belajar,” ujar Yassierli dalam keterangan resminya, Selasa (9/6/2026).

Ia menjelaskan, negara-negara di kawasan Asia Pasifik saat ini menghadapi berbagai persoalan ketenagakerjaan yang semakin kompleks.

Mulai dari tingkat pengangguran, meningkatnya pekerjaan informal, ancaman pergeseran lapangan kerja akibat perkembangan teknologi dan AI, hingga perlunya kebijakan ketenagakerjaan yang lebih inklusif.

Menurutnya, kerja sama regional menjadi langkah penting untuk memastikan setiap negara mampu menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus memberikan perlindungan yang layak bagi para pekerja.

Yassierli menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan keterampilan tenaga kerja menjadi salah satu prioritas nasional untuk mengatasi kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan dunia industri yang terus berkembang.

Salah satu program unggulan yang dijalankan pemerintah adalah Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi.

Program tersebut memberikan pengalaman kerja terstruktur selama enam bulan di berbagai sektor industri dengan dukungan uang saku dari pemerintah yang nilainya setara dengan upah minimum.

Baca Juga  Hari Jadi Lamongan ke-457 Jadi Momentum Perkuat Ketahanan Pangan dan Sosial

Pada 2026, program ini ditargetkan dapat menjangkau 150 ribu peserta di seluruh Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan Program Pelatihan Vokasi Nasional yang menyasar lulusan SMA dan sederajat.

Program tersebut ditargetkan mampu memberikan pelatihan kepada 300 ribu peserta agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Menaker menegaskan bahwa kedua program tersebut dirancang secara inklusif. Kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dibuka bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dan perbatasan.

Menurut Yassierli, perubahan dunia kerja akibat perkembangan teknologi sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.

Lulusan baru membutuhkan pengalaman kerja, pencari kerja memerlukan pelatihan yang sesuai kebutuhan industri, pekerja harus meningkatkan keterampilan agar tetap relevan, sementara kelompok rentan memerlukan akses yang lebih adil untuk memasuki pasar kerja.

Dalam forum ASPAG, Indonesia juga menawarkan sejumlah peluang kerja sama strategis, di antaranya pengembangan kurikulum pelatihan vokasi untuk keterampilan masa depan, pembentukan pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas, pengembangan komunitas pertanian, hingga pembentukan klinik produktivitas dan pusat teknologi tepat guna.

Yassierli menilai berbagai program tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kurikulum vokasi yang sesuai kebutuhan industri akan meningkatkan daya saing tenaga kerja, sementara pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas dapat membuka kesempatan kerja yang lebih setara.

Di sektor pertanian, pengembangan komunitas diharapkan mampu meningkatkan produktivitas masyarakat.

Adapun klinik produktivitas dan pusat teknologi tepat guna dapat membantu pekerja maupun pelaku usaha beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan industri.

“Indonesia siap berbagi dan belajar. Kita memiliki banyak hal yang dapat saling ditawarkan untuk membangun kawasan yang lebih kuat dan tangguh bagi para pekerja,” ujar Menaker.

Baca Juga  Parkir Digital Surabaya Makin Luas, 926 Juru Parkir Layani Transaksi Non Tunai hingga Perak dan Stasiun Kota

Melalui kerja sama ASPAG, Indonesia berharap perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan tidak menjadi ancaman bagi tenaga kerja, melainkan peluang untuk meningkatkan keterampilan, memperluas akses terhadap lapangan pekerjaan yang lebih adil, serta memperkuat perlindungan bagi para pekerja di masa depan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *