Surabaya, Jatimmandiri.id – Perjalanan karier Direktur PT Solusindo Integrata Praetoria (SIP), Achmad Diqki Wartapriasetia, menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi mampu membawa seseorang menembus berbagai tantangan di dunia konstruksi.
Diqki memulai langkahnya pada 1999 sebagai konsultan pribadi, tepat setelah lulus dari SMK kejuruan. Saat itu, ia belum memiliki badan usaha maupun tim besar. Proyek awalnya pun dimulai dari skala terbatas, dengan melibatkan sekitar 10 orang tenaga kerja.
Pengalaman pertamanya mengerjakan proyek rumah mewah di kawasan elit Surabaya seperti Citraland, Graha Family, hingga Pakuwon menjadi titik awal yang mengasah kemampuannya di bidang konstruksi. Dalam satu proyek, ia mampu menyelesaikan pembangunan rumah seluas 800 meter persegi dalam waktu sekitar satu tahun.
Di periode yang sama, Diqki juga mulai membangun relasi profesional, salah satunya dengan Ko Liang pada rentang 1999–2000. Dari kerja sama tersebut, kualitas pekerjaannya mendapat pengakuan dan membuka peluang proyek-proyek berikutnya.
Kariernya terus berkembang. Ia turut menangani sejumlah proyek milik H. Arifin dari Linda Jaya. Puncaknya, pada 2006, ia dipercaya menjadi bagian dari tim engineering dalam pembangunan pabrik kalsium seluas 15 hektare di Tuban. Proyek tersebut berkembang selama 11 tahun dan menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan profesionalnya.
Momentum besar datang pada 2017, saat perusahaannya, PT SIP, berhasil memenangkan tender proyek Asahimas Chemical di Cilegon dengan nilai kontrak mencapai Rp60 miliar. Sejak saat itu, Diqki mencatatkan sekitar 50 proyek yang telah dikerjakan hingga kini, termasuk proyek di Jambi yang menjadi salah satu lokasi terjauh.
Namun, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Ia mengungkapkan bahwa fluktuasi harga material, khususnya di wilayah seperti Jambi, menjadi kendala utama. Kenaikan harga bahan bangunan, kelangkaan BBM, serta pengaruh nilai tukar dolar Amerika turut berdampak pada biaya proyek.
“Harga material sering berubah dan cenderung naik, apalagi ditambah kondisi BBM yang langka dan kurs dolar yang tinggi,” ujarnya.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Diqki juga menyampaikan pesan kepada generasi muda. Ia menyoroti perubahan gaya hidup di era digital yang dinilai membuat banyak anak muda terlena oleh gadget dan permainan.
“Sekarang zamannya digital. Banyak yang lebih sibuk bermain game daripada mencari peluang masa depan. Dulu, di warung kopi kami berdiskusi tentang pekerjaan, bukan sekadar bermain,” katanya.
Ia berharap generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang usaha, bukan justru terjebak dalam kebiasaan yang kurang produktif.
Perjalanan Achmad Diqki Wartapriasetia menjadi gambaran nyata bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang, kerja keras, dan keberanian mengambil peluang.












