Ekbis

B50 Resmi Mengalir di Mayoritas SPBU Pertamina, Indonesia Klaim Jadi Negara Pertama Terapkan Biodiesel 50 Persen

×

B50 Resmi Mengalir di Mayoritas SPBU Pertamina, Indonesia Klaim Jadi Negara Pertama Terapkan Biodiesel 50 Persen

Sebarkan artikel ini
ilustrasi
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id –  Implementasi bahan bakar biodiesel B50 mulai meluas di Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa lebih dari separuh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina kini telah menyalurkan B50 sejak program tersebut resmi diberlakukan pada awal Juli 2026.

Langkah ini sekaligus menandai babak baru dalam transisi energi nasional yang ditargetkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Pertamina Patra Niaga mengelola sekitar 13.603 SPBU hingga kuartal I 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 57 persen telah menyediakan B50 bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan distribusi B50 telah berlangsung di sejumlah wilayah strategis di Indonesia. “B50 sudah ada di 57% SPBU Pertamina,” kata Eniya.

Menurutnya, penyaluran biodiesel B50 telah dimulai sejak 1 Juli 2026 dan kini menjangkau berbagai daerah, mulai Pulau Jawa, Sumatra hingga sebagian wilayah Sulawesi.

“B50 sudah disalurkan beberapa titik mulai 1 Juli. Di wilayah Cikampek sudah B50 semua, termasuk di Surabaya dan Jakarta,” ujarnya.

B50 merupakan bahan bakar hasil pencampuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati atau hewani dengan 50 persen solar. Program ini menjadi kelanjutan dari kebijakan B40 sebagai bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.

Meski implementasi B50 telah dimulai secara resmi, pemerintah masih memberikan masa transisi hingga 30 September 2026. Kebijakan tersebut diterapkan karena sejumlah badan usaha penyedia bahan bakar masih memiliki persediaan B40 yang harus dihabiskan terlebih dahulu.

Eniya menjelaskan Pertamina diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menghabiskan stok B40 di jaringan SPBU miliknya. Sementara itu, sebanyak 34 badan usaha swasta yang juga melakukan pencampuran biodiesel diperkirakan memerlukan waktu hingga tiga bulan untuk menyelesaikan distribusi stok lama sebelum sepenuhnya beralih ke B50.

Baca Juga  KKP Perluas Ekspor Perikanan ke China, Sebanyak 638 UPI Kantongi Izin Resmi

Di sisi lain, pemerintah masih terus menghitung kebutuhan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai komponen utama biodiesel sepanjang sisa tahun 2026.

Hingga kini, volume FAME dalam Keputusan Menteri ESDM masih ditetapkan dalam bentuk rentang karena kebutuhan diperkirakan terus berubah mengikuti tingkat konsumsi.

“Hitungannya 16,7-18 juta kilo liter, ini bergerak terus angkanya. Angka minimal yang bisa kami keluarkan itu (volume) 16,7 juta kilo liter tapi kalau bisa mencapai lebih dari itu bagus,” ujar Eniya.

Peluncuran resmi program mandatori B50 dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Rest Area KM 57 Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7). Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyatakan Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan wajib penggunaan biodiesel dengan campuran 50 persen.

“Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatory biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini adalah bukti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri,” kata Prabowo sebagaimana disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Prabowo menjelaskan percepatan penggunaan biodiesel telah didorong sejak sebelum dirinya dilantik sebagai Presiden. Setelah resmi menjabat, ia meminta jajaran kementerian mempercepat peningkatan bauran biodiesel dari B40 menuju B50, bahkan menargetkan implementasi B100 pada masa mendatang.

Menurut Prabowo, para menteri telah menyampaikan bahwa penerapan B50 berpotensi membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar dari luar negeri.

“Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa yang luar biasa,” ujarnya.

Dengan semakin luasnya distribusi B50 di SPBU Pertamina serta dukungan kebijakan pemerintah, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *