Surabaya, Jatim Mandiri
Menyusul rentetan bencana di Lumajang, Malang, dan Trenggalek, DPRD Jatim meminta pemerintah daerah memperkuat mitigasi, kesiapsiagaan, serta informasi peringatan dini pada masyarakat. Hal ini kian penting seiring peringatan BMKG Juanda terkait potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jatim selama 2–9 November 2026 yang dapat memicu banjir, longsor, serta angin kencang.
BMKG Juanda menyebut, potensi cuaca ekstrem dipengaruhi masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Sejumlah faktor atmosfer juga mendukung pertumbuhan awan konvektif yang memicu hujan sedang hingga lebat.
Faktor tersebut meliputi gangguan gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) yang melintasi Jatim serta pola pertemuan angin atau konvergensi. “Waspadai potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Jawa Timur yang dapat mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi (hujan sedang – lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, serta hujan es) pada periode 02 hingga 9 November 2026,” tulis akun BMKG Juanda, Selasa (3/11).
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kabupaten Probolinggo, Kota dan Kabupaten Pasuruan, Jember, Lumajang, Kota dan Kabupaten Kediri, Tulungagung, serta Trenggalek.
Potensi serupa juga mencakup Banyuwangi, Kota dan Kabupaten Malang, Kota dan Kabupaten Blitar, Pacitan, Kota dan Kabupaten Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Kota Batu, dan Magetan.
Peringatan ini sejalan dengan rentetan bencana yang telah terjadi di sejumlah daerah. Di Lumajang, banjir lahar hujan Gunung Semeru menerjang sejumlah daerah aliran sungai, termasuk kawasan Tempursari. Kejadian itu juga menyebabkan tanggul jebol dan sekitar 13 bangunan rusak, serta berdampak pada sekitar 500 warga.
Di Kabupaten Malang, tanah longsor terjadi di kawasan Tirtoyudo. Sementara di Trenggalek, cuaca ekstrem menyebabkan pohon trembesi tumbang di Jalan Raya Durenan–Trenggalek serta sejumlah titik di Kecamatan Panggul dan Kampak.
Menyikapi kondisi ini, Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni meminta pemerintah provinsi dan kabupaten/kota meningkatkan kesiapsiagaan. BPBD, TNI, Polri, serta seluruh unsur terkait diminta memperkuat koordinasi dalam mitigasi dan penanganan bencana.
“Rentetan bencana yang terjadi di sejumlah daerah Jawa Timur harus menjadi perhatian serius kita bersama. Jangan menunggu bencana terjadi baru bergerak, langkah antisipasi, mitigasi, dan penyampaian informasi kepada masyarakat harus dilakukan sejak dini,” ujar Sri Wahyuni seperti dikutip timesindonesia.co.id, Selasa (3/11).
Politisi Partai Demokrat tersebut menegaskan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas, terutama warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, longsor, dan bantaran sungai.
“Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Hindari berteduh di bawah pohon besar, jauhi aliran sungai saat hujan di kawasan hulu, dan segera menjauh dari lereng apabila muncul retakan tanah atau tanda-tanda longsor,” katanya.
Selain meningkatkan kewaspadaan masyarakat, Sri Wahyuni meminta pemerintah daerah memastikan kesiapan jalur evakuasi, tempat pengungsian, logistik, peralatan penyelamatan, serta layanan kesehatan. (*/ibn)












