Jakarta, Jatim Mandiri – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan petugas garis depan yang menangani kebakaran hutan dan lahan. Lembaga itu juga mendorong pemeriksaan medis rutin bagi personel yang bertugas di tengah paparan asap selama operasi pemadaman. Perhatian terhadap kondisi petugas menjadi bagian dari penanganan kebakaran, selain pengaturan operasi di lapangan.
Kepala BNPB Kristomei Sianturi menyampaikan rekomendasi pemeriksaan medis menyeluruh bagi petugas pemadam, termasuk pemeriksaan rontgen dada. Pernyataan itu disampaikan pada Senin dalam rapat koordinasi penanganan kebakaran di Palembang, Sumatera Selatan. Pemeriksaan tersebut ditujukan kepada petugas garis depan yang banyak terpapar asap ketika berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan.
“If necessary, we should get them chest X-rays. They deserve proper care,” kata Kristomei dalam rapat tersebut. Ia merekomendasikan pemeriksaan menyeluruh agar kondisi kesehatan personel yang menjalankan tugas pemadaman mendapat perhatian. BNPB menempatkan kesehatan, keselamatan, serta pemeriksaan medis rutin sebagai hal yang perlu diprioritaskan selama petugas menangani kebakaran.
Selain pemeriksaan kesehatan, Kristomei mendorong pembentukan pos operasi bersama berdasarkan klaster titik panas. Pos tersebut perlu memiliki komandan wilayah yang jelas agar penugasan di lapangan terarah. Setiap pos juga perlu dilengkapi peta penugasan, serta data jumlah personel dan peralatan yang telah dikonfirmasi.
BNPB turut menekankan akuntabilitas dan ketepatan data dari pos-pos lapangan. Jumlah personel yang dilaporkan harus sesuai kondisi sebenarnya di lokasi. Data tersebut diperlukan untuk menggambarkan keadaan penugasan dan memastikan petugas yang bekerja memperoleh perlindungan serta dukungan yang layak. Pengaturan pos bersama menjadi bagian dari upaya menata operasi taktis berdasarkan sebaran titik panas.
Data Kementerian Kesehatan dan BNPB hingga awal Oktober mencatat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan memicu ratusan kasus gangguan pernapasan berat, termasuk infeksi saluran pernapasan akut. Kebakaran juga menyebabkan 324 orang mengalami luka berat, 23 orang luka ringan, dan empat orang meninggal dunia.
Di antara korban terdapat Hardiansyah (41), pengemudi ojek daring di Palembang, Sumatera Selatan, serta Lisna, seorang guru di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Fikri (51), warga Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, juga meninggal saat berusaha memadamkan api. Data korban tersebut mencakup dampak kebakaran hutan dan lahan yang dilaporkan hingga awal Oktober.
Empat kematian tambahan dilaporkan dalam kebakaran hutan di Gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Peristiwa itu terjadi pada Kamis (16 Oktober) di Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Korban yang meninggal di lokasi kebakaran Bromo ialah Sefril dan Wisnu, pekerja sukarelawan hotel setempat, serta Sukaris, petugas TNBTS. Petugas TNBTS lainnya, Hendra Roni, kemudian meninggal di Rumah Sakit Daerah Tongas. Rangkaian dampak tersebut menjadi latar penting bagi penekanan BNPB terhadap kesehatan dan keselamatan petugas, termasuk pemeriksaan medis serta pengelolaan operasi bersama yang didukung data lapangan terkonfirmasi.












