Mengingat lanskap geografis Jawa Timur, khususnya wilayah Malang Raya, memiliki tingkat kerawanan hidrometeorologi maupun geologi yang cukup tinggi, perluasan program ini harus terus dikebut.
“Jawa Timur merupakan daerah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Karena itu, pembentukan Destana harus terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang memiliki kemampuan mitigasi kebencanaan,” tegasnya.
Terapkan Pendekatan Pentahelix Demi Minimalisasi Dampak
Lebih lanjut, Puguh memaparkan bahwa kesuksesan konsep pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) tidak dapat bertumpu pada pundak pemerintah daerah semata.
Dibutuhkan kerja sama terpadu yang melibatkan seluruh komponen masyarakat melalui pendekatan formula Pentahelix.
Sinergi terintegrasi ini melibatkan lima unsur utama secara aktif:
-
Pemerintah selaku pembuat kebijakan dan penyedia anggaran.
-
Akademisi sebagai penyedia basis riset dan keilmuan mitigasi.
-
Dunia Usaha melalui kontribusi sosial dan tanggung jawab kebencanaan.
-
Media Massa sebagai sarana edukasi dan diseminasi informasi cepat.
-
Organisasi Masyarakat & Warga sebagai aktor utama di hilir.
“Kolaborasi aktif seluruh unsur sangat penting. Ketika masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana, maka dampak yang ditimbulkan dapat dinimalkan,” jelas Puguh.
Pelatihan Destana yang dirancang intensif selama tujuh hari tersebut menggunakan pendampingan dari fasilitator yang kompeten di bidangnya.
Melalui program ini, warga desa dibekali pengetahuan praktis berupa simulasi evakuasi mandiri, pemetaan jalur evakuasi, hingga penanganan darurat awal.
Perluasan program Destana ke depan diharapkan mampu memperkuat ketahanan sosial sekaligus menekan angka fatalitas korban maupun kerugian ekonomi akibat bencana.












