Malang, Jatimmandiri.id – Pemerintah memperkuat langkah menuju swasembada gula sekaligus pengembangan energi terbarukan berbasis bioetanol melalui panen raya tebu yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jumat (17/07).
Panen raya tersebut menjadi bagian dari panen serentak di 43 titik di Indonesia untuk komoditas tebu, padi, dan kedelai. Dari ketiga komoditas itu, tebu menjadi penyumbang terbesar dengan lahan binaan TNI AU seluas 236.048 hektare yang diproyeksikan menghasilkan 18,38 juta ton tebu atau setara 1,36 juta ton gula, sekitar 45 persen target produksi gula nasional tahun ini.
Presiden Prabowo menegaskan pengembangan sektor tebu tidak lagi hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gula nasional, tetapi juga untuk mendukung ketahanan energi melalui bioetanol. “Indonesia harus mengejar ketertinggalan dalam pengembangan bioetanol dan mempercepat pembangunan pabrik-pabrik baru,” tegas Prabowo saat panen raya.
Di Lanud Abdulrachman Saleh, tebu akan diolah secara terintegrasi, mulai dari produksi gula kristal hingga pemanfaatan tetes tebu menjadi bioetanol, pupuk organik, dan berbagai produk bernilai tambah.
Untuk mendukung program tersebut, Presiden menginstruksikan pembangunan hingga 50 pabrik bioetanol baru. Langkah ini diharapkan mempercepat pemanfaatan energi nabati sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga mulai menerapkan campuran bioetanol lima persen (E5) secara bertahap di enam provinsi, yakni Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Target berikutnya adalah penerapan campuran bioetanol 20 persen (E20) mulai 2028.
Program ini dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi komoditas tebu. Molase yang sebelumnya hanya menjadi hasil samping industri gula kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi, sehingga membuka sumber pendapatan baru bagi petani.
Dengan demikian, pengembangan industri tebu tidak hanya diarahkan untuk mewujudkan swasembada gula, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional. Keberhasilannya bergantung pada pembangunan industri pengolahan, rantai pasok yang kuat, serta kebijakan yang konsisten agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani dan masyarakat. (*ayn)












