HeadlineMetropolitan

Libur Sekolah di Surabaya Dinilai Sukses Perkuat Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

×

Libur Sekolah di Surabaya Dinilai Sukses Perkuat Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

Sebarkan artikel ini
Kebijakan libur sekolah Pemkot Surabaya dinilai berhasil memperkuat peran keluarga dalam pendidikan karakter anak dan mendapat apresiasi dari tokoh pendidikan Jawa Timur.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id- Kebijakan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya dalam memanfaatkan momentum libur sekolah menuai apresiasi dari berbagai kalangan, khususnya praktisi dan tokoh pendidikan di Jawa Timur.

Program yang mendorong keterlibatan aktif orang tua selama masa liburan dinilai bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan langkah strategis untuk mengembalikan peran keluarga sebagai pusat pendidikan karakter.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Apresiasi tersebut disampaikan oleh Isa Ansori, yang juga merupakan pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) serta Wakil Ketua ICMI Jawa Timur Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup.

Ia menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mampu melihat celah penting dalam dunia pendidikan yang kerap terabaikan.

“Ketika sekolah libur, banyak yang menganggap proses pendidikan ikut berhenti. Padahal, justru pendidikan paling mendasar terjadi saat anak kembali ke rumah dan berinteraksi langsung dengan orang tua,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, di tengah derasnya arus digitalisasi yang berpotensi mengurangi kedekatan emosional dalam keluarga, kehadiran orang tua secara utuh menjadi sangat penting.

Momentum libur sekolah dinilai sebagai kesempatan emas untuk mempererat kembali hubungan antara orang tua dan anak yang mungkin renggang akibat kesibukan sehari-hari.

Ia menegaskan bahwa makna liburan tidak selalu identik dengan kegiatan wisata atau pengeluaran besar, melainkan lebih pada kualitas kebersamaan dalam keluarga.

“Orang tua bisa membangun kedekatan melalui hal sederhana, seperti mengajak anak mengunjungi kakek-nenek, berziarah ke makam leluhur untuk mengenal sejarah keluarga, memasak bersama, membersihkan rumah, atau sekadar duduk bersama mendengarkan cerita anak tanpa gangguan gawai,” jelasnya.

Kebijakan Dispendik Surabaya ini juga dinilai sejalan dengan semangat gerakan membasuh kaki orang tua yang sebelumnya pernah digagas Pemkot Surabaya.

Meski sempat dipandang sebagai kegiatan seremonial, gerakan tersebut mengandung nilai filosofis mendalam tentang penghormatan, kerendahan hati, dan penguatan hubungan keluarga.

Baca Juga  Surabaya Raih Dua Penghargaan Nasional Kemendikdasmen di Hardiknas 2026

Melalui pendekatan yang berkesinambungan, Pemkot Surabaya dinilai berhasil mengingatkan kembali bahwa orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak.

Ke depan, komitmen ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun sistem pendidikan berbasis keluarga. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik di sekolah, tetapi juga oleh karakter yang terbentuk di lingkungan keluarga.

“Pendidikan karakter tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari keteladanan. Bangsa yang besar dibangun bukan hanya oleh sekolah yang unggul, tetapi juga oleh keluarga yang mampu menanamkan nilai hormat, kasih sayang, dan kemanusiaan sejak dini,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *