HeadlineMetropolitan

Pemkot Surabaya Perkuat Pencegahan Stunting Lewat Program BWSE Jilid V, Sasar 499 Balita

×

Pemkot Surabaya Perkuat Pencegahan Stunting Lewat Program BWSE Jilid V, Sasar 499 Balita

Sebarkan artikel ini
Pemkot Surabaya bersama TP PKK meluncurkan BWSE Jilid V untuk mencegah stunting dengan menyasar 499 balita pra-stunting melalui pendampingan gizi dan pengasuhan.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id- Pemerintah Kota Surabaya bersama Tim Penggerak PKK kembali memperkuat upaya pencegahan stunting melalui program Gebyar Bersama Wujudkan Surabaya Emas (BWSE) Eliminasi Masalah Stunting Jilid V.

Program yang telah memasuki tahun kelima ini menyasar 499 balita pra-stunting di Kota Pahlawan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Peluncuran program dilakukan oleh Ketua TP PKK Surabaya, Rini Indriyani bersama Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi di Kantor TP PKK Kota Surabaya, Jalan Tambaksari No. 11, Surabaya, Sabtu (20/6/2026).

Kegiatan ini diikuti peserta dari 31 kecamatan dan 63 puskesmas, baik secara daring maupun luring.

Rini Indriyani menjelaskan, BWSE merupakan program kolaboratif yang melibatkan sejumlah perangkat daerah, di antaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), serta Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo).

Menurutnya, sasaran program ini adalah balita kategori pra-stunting, yakni anak yang belum mengalami stunting, tetapi memiliki risiko tinggi jika tidak mendapatkan intervensi sejak dini.

Melalui program ini, peserta akan mendapatkan pendampingan intensif selama dua bulan. Pendampingan tersebut meliputi pemberian asupan bergizi seperti telur, susu, dan ayam.

Sementara bagi balita yang memiliki alergi, asupan protein akan diganti dengan alternatif lain seperti ikan atau daging.

Selain pemberian makanan tambahan, program ini juga menitikberatkan pada edukasi orang tua terkait pola pengasuhan dan pengolahan makanan bergizi.

Setiap balita akan didampingi oleh Tim Pendamping Keluarga yang terdiri dari tenaga kesehatan, kader PKK, serta Kader Surabaya Hebat (KSH).

“Setiap anak didampingi oleh tiga unsur, yakni tenaga kesehatan, kader PKK, dan KSH,” ujar Rini.

Dalam pelaksanaannya, program ini turut melibatkan berbagai pihak, seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),

Baca Juga  Jaga Estetika Kota, Anas Karno Minta Lurah dan Camat Jemput Bola Kawal Lapak Kurban

Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), unsur keluarga, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

IDAI berperan dalam memantau tumbuh kembang anak, HIMPSI menilai keterlibatan ayah dalam pengasuhan, sedangkan FKM memberikan pendampingan terkait pemberian gizi dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia anak.

Rini menekankan bahwa keterlibatan ayah juga menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian program, karena berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak.

Proses penjaringan peserta telah dimulai sejak Mei 2026 melalui koordinasi dengan TP PKK tingkat kecamatan dan kelurahan.

Dari total 788 balita yang terdata, sebanyak 499 balita mengikuti program, sementara sisanya tidak mengikuti karena berbagai alasan, termasuk kesibukan orang tua dan faktor administrasi.

Sebagai bagian dari BWSE Jilid V, TP PKK Surabaya juga bekerja sama dengan IDAI untuk menggelar pemeriksaan kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang anak di 59 titik puskesmas.

Kegiatan ini melibatkan 63 dokter spesialis anak serta didukung Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, HIMPSI, dan Poltekkes Kemenkes.

Rini berharap, pendampingan selama dua bulan tersebut dapat membentuk kebiasaan baru bagi orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta menerapkan pola asuh yang tepat.

“Harapannya, kebiasaan baik ini terus berlanjut meskipun program telah selesai, sehingga orang tua dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *