Surabaya, Jatimmandiri.id – Di tengah gempuran moda transportasi modern, perahu tambang di Surabaya justru membuktikan bahwa solusi cerdas tak selalu harus canggih.
Menghubungkan kawasan Karangpilang dan Pagesangan, moda transportasi tradisional ini menjadi jalan pintas favorit warga untuk memangkas waktu perjalanan sekaligus menghindari kemacetan kota yang kian padat.
Dengan waktu tempuh yang relatif singkat, warga memanfaatkan perahu tambang untuk menunjang aktivitas sehari-hari seperti bekerja, bersekolah, hingga berdagang.
Tidak sedikit pengendara motor yang memilih jalur penyeberangan ini. Sebab, dianggap lebih efisien dibanding harus memutar melewati jalur darat yang relatif jauh.
Beni, salah satu petugas perahu tambang, menerangkan bahwa tarif menyebrang dibandrol dengan harga terjangkau. Yakni, hanya Rp2 ribu.
Sedangkan bagi pengendara yang berboncengan dipatok Rp3 ribu.
“Sekali menyebrang tarifnya cuma dua ribu rupiah saja, apabila berboncengan tambah seribu saja,” ungkap Beni ditemui Jatimmandiri.id pada Senin malam, 9 Juni 2026.
Perahu tambang dioperasikan sejak pagi. Hal ini dinilai Beni efektif lantaran menyasar masyarakat yang hendak berangkat kerja.
Begitu pun menjelang petang, perahu tambang turut disiagakan melayani jam pulang kantor.
Ketika dini hari, perahu tambang menjadi andalan bagi para pedagang pasar.
“Untuk operasionalnya kami ada beberapa sif mulai dari jam 5 pagi hingga jam 1 dini hari. Jadi kami bergantian untuk menjalankan perahunya,” imbuh Beni.
Banyak masyarakat yang merasa terbantu dengan adanya moda transportasi tradisional ini.
Hal tersebut seperti yang dirasakan oleh Ryan, salah satu penumpang perahu tambang.
“Sangat terbantu tanpa harus memutar jauh, sehingga bisa menghemat BBM dan memangkas waktu. Apalagi di jam pulang kantor rawan macet,” ujar Ryan.
Animo masyarakat terhadap perahu tambang terbilang tinggi. Ratusan masyarakat antre setiap hari.
Meski arus teknologi berkembang pesat, namun eksistensi perahu tambang tak lekang oleh zaman.












