Dan…perpisahan itu kembali terjadi. Bruno Moreira angkat kaki. Pemain asal Brasil itu tak lagi berjersey Persebaya musim depan.
Kabarnya, nilai kontrak yang ditawarkan Green Force yang jadi alasan kuat hengkangnya pemain yang 4 musim dalam 2 periode membela tim kebanggaan warga Surabaya itu.
Persebaya adalah klub yang tidak pernah menghamburkan uang. Itu pendapat saya. Beda pendapat? boleh-boleh saja.
Wong Indonesia negara demokrasi.
Apalagi untuk urusan kontrak pemain. Meski pemain adalah salah satu faktor utama prestasi sebuah klub tapi Persebaya bergeming.
Tim asal Kota Pahlawan ini tidak gampang mengeluarkan uang lebih untuk kontrak pemain.
Semuanya sudah ditata sedemikian rupa. Dari musim ke musim sudah kelihatan.
Persebaya bermain ‘aman’ ketika berkompetisi di Liga 1 atau Super League.
Kembali ke Bruno. Sebagai pemain penting di lini tengah, Bruno jelas jadi pembeda.
Gocekan khas Samba jadi ikon tersendiri. Wajah ganteng juga jadi daya pikat pembelian merchandise atas Namanya.
Tapi lagi-lagi Persebaya mengesampingkannya. Bruno dianggap hanya pemain yang keluar masuk sebuah klub profesional.
Strategi manajemen dalam rekrutmen pemain untuk mengarungi kompetisi musim depan memang jadi otoritas mereka.
Fans dan supporter Persebaya memang tidak boleh cawe-cawe. Saran boleh tapi kalau tidak digunakan jangan marah. Karena lagi-lagi itu otoritas Persebaya.
Lalu bagaimana dengan keinginan suporter dalam hal ini Bonek dan Bonita Persebaya juara di usia satu abad? Itu kan keinginan suporter.
Boleh-boleh saja. Soal juara dan tidak itu urusan nanti. Lalu bagaimana dengan slogan Bismillah 2027 yang dikaitkan dengan target juara?
Ah, kalau itu saya melihatnya adalah faktor kejut saja dan masih tanda tanya.
Permainan psikologis saja.
Secara terbuka manajemen Persebaya juga belum menegaskan target juara musim 2027.
Jangan GR ya.
Kata Bismillah yang biasanya disempurnakan menjadi Bismillahirrahmanirrahim yang bermakna “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” lazim dipakai sehari-hari mayoritas warga Surabaya yang muslim.
Jadi nggak ada hubungannya dengan target juara.
Kalau mau juara membangun tim komplit dari semua lini. Belakang hingga depan.
Mendatangkan pemain berkualitas di setiap posisi. Pemain starting kualitasnya tidak berbeda dengan cadangan.
Kalau itu tidak dilakukan jangan harap ya Persebaya juara 2027 atau seabad ulang tahun Persebaya yang lahir 1927 silam.
Bagi suporter Kembali harus dewasa. Dalam artian jangan terlalu banyak berharap.
Berharap boleh tapi jangan berlebihan. Persebaya adalah tim profesional.
Tim yang tidak mungkin menghamburkan uang untuk membeli pemain berkualitas. Apalagi pemain bagus yang ingin kontraknya dinaikkan ketika berprestasi.
Tidak ada dalam kamus Persebaya itu?
Jadi tagline: Bismillah Persebaya jangan diartikan lebih. Cukup diamini dalam hati bahwa ada niat yang tulus dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Selebihnya, yuk kita nikmati saja orkresta atau drama apa yang terjadi di musim 2026/2027.
Juara? Sepertinya masih jauh panggang dari api. Hem. (*)












