Surabaya, Jatim Mandiri – PT PAL Indonesia (Persero) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama mengembangkan teknologi maritim dalam negeri. Salah satu fokus kolaborasi tersebut ialah riset sistem pendorong berbasis energi bersih untuk KRI Sriwijaya-100. Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung kemandirian teknologi pertahanan nasional dan memperkuat kapasitas industri maritim Indonesia.
Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Riset dan Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi di Bidang Industri Maritim Indonesia. Penandatanganan dilakukan di Surabaya pada Selasa, 03/11. Melalui kesepakatan tersebut, PT PAL dan BRIN membuka ruang kerja bersama dalam riset, pengembangan, serta pemanfaatan hasil inovasi.
Ruang kerja sama mencakup sektor industri maritim, energi, dan industri proses. Riset sistem pendorong KRI Sriwijaya-100 menjadi salah satu kegiatan yang menghubungkan kemampuan riset nasional dengan kebutuhan pengembangan teknologi kapal. Kedua pihak juga menjajaki pengembangan teknologi propulsi dan energi yang lebih maju dengan mengandalkan kemampuan dalam negeri.
Direktur Produksi PT PAL Indonesia, Diana Rosa, mengatakan keterlibatan industri dalam kegiatan riset penting agar hasil penelitian dapat diterapkan untuk memenuhi kebutuhan teknologi nasional. Menurutnya, riset perlu diarahkan menjadi teknologi yang dapat digunakan industri, bukan berhenti sebagai hasil penelitian.
“Bagi kami, hasil riset harus diterjemahkan menjadi teknologi yang aplikatif dan menjawab kebutuhan industri,” kata Diana di Surabaya, Selasa.
Bagi industri galangan kapal dalam negeri, penguasaan teknologi propulsi mendukung kemampuan desain, rekayasa, hingga integrasi berbagai sistem pada kapal. Pengembangan kemampuan tersebut menjadi bagian dari upaya agar pengembangan kapal tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi dari luar negeri. Riset untuk KRI Sriwijaya-100 menjadi salah satu langkah pengembangan teknologi pendorong kapal berbasis energi bersih.
Diana menyebut kerja sama riset dan pengalaman industri perlu dipertemukan dalam pengembangan sistem tersebut. “Pengembangan sistem pendorong KRI Sriwijaya-100 menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan kemampuan riset dengan pengalaman industri,” ujarnya.
Ia berharap sinergi PT PAL dan BRIN menghasilkan teknologi yang bernilai strategis bagi penguatan industri maritim nasional. Kerja sama juga diharapkan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi perkapalan. Peningkatan kemampuan tersebut menjadi bagian dari kapasitas nasional untuk mengembangkan teknologi strategis kemaritiman.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperpendek jarak antara hasil penelitian lembaga riset dan kebutuhan operasional industri. Inovasi yang dikembangkan diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diarahkan menuju penerapan nyata. Arah tersebut sejalan dengan kebutuhan sektor industri yang menjadi ruang kerja sama kedua pihak.
Melalui kesinambungan kerja sama, PT PAL dan BRIN berupaya memperkuat kapasitas nasional dalam pengembangan teknologi strategis bidang kemaritiman. Upaya tersebut ditujukan untuk membangun industri maritim yang mandiri dan berdaya saing, sekaligus memperkuat pengembangan teknologi dalam negeri untuk kebutuhan pertahanan dan perkapalan.












