Malang, Jatim Mandiri
Cadangan air Bendungan Sutami, Kabupaten Malang, memasuki kondisi kritis seiring elevasi permukaan air turun lebih dari 13 meter sejak puncak musim hujan. Perum Jasa Tirta (PJT) I menyiapkan langkah pengendalian untuk menjaga ketersediaan air bagi pembangkit listrik, kebutuhan air bersih, industri, dan irigasi.
Elevasi permukaan air bendungan tercatat 259,49 meter di atas permukaan laut (mdpl), turun dari 272,5 mdpl pada April–Mei 2026. Kepala Subdirektorat Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas I PJT I, Arif Satriya, menyatakan cadangan air kini kritis dari perspektif alokasi sumber daya.
“Kalau dari perspektif alokasi sumber daya air, kondisi cadangan air Bendungan Sutami saat ini sudah kritis,” ujar Arif seperti dikutip Kompas.com, Kamis (22/10).
Menurut dia, penyusutan dipengaruhi kemarau panjang dan fenomena El Nino Godzilla yang mengurangi pasokan air sekaligus mempercepat penguapan. “Bukan hanya karena datangnya hujan itu mundur tapi juga karena cuaca kering yang sangat ekstrem sehingga air cepat susut bersamaan dengan pasokan air yang terus mengecil,” katanya.
Target elevasi 260 mdpl yang semula diperkirakan tercapai pada November ternyata terlampaui lebih cepat. “Target elevasi 260 MDPL di November bahkan sudah terlewati hari ini,” kata Arif.
PJT I berupaya mempertahankan elevasi minimal 256 mdpl hingga hujan berintensitas ringan sampai sedang diperkirakan turun pada pertengahan November atau awal Desember 2026.
Bendungan Sutami merupakan infrastruktur utama pengelolaan air Sungai Brantas untuk kebutuhan energi, air bersih, industri, dan pertanian. Bendungan yang diresmikan pada 1972 ini memiliki kapasitas awal 343 juta meter kubik, tetapi akibat sedimentasi, kapasitas tampungan saat ini diperkirakan tinggal sekitar 180 juta meter kubik. (*/ibn)













