Intisari Berita:
- Tren meminum campuran minyak zaitun dan perasan lemon untuk perawatan kulit tidak aman bagi semua orang, terutama individu dengan riwayat asam lambung atau GERD.
- Dokter spesialis kulit dr Ruri Pamela, SpDVE, memperingatkan risiko kekambuhan lambung, lonjakan kalori tak terkontrol, serta interaksi berbahaya dengan obat pengencer darah.
- Masyarakat diimbau berkonsultasi secara medis sebelum rutin mengonsumsi ramuan ini, serta memprioritaskan jenis Extra Virgin Olive Oil (EVOO) dan lemon segar.
Surabaya, Jatimmandiri.id – Praktik meminum campuran minyak zaitun dengan perasan lemon belakangan marak diadopsi masyarakat sebagai metode alternatif perawatan kulit. Kombinasi kedua bahan alami ini dipandang sebagai cara sederhana dan menyehatkan untuk meraih kulit cerah. Namun, metode yang viral di media sosial tersebut rupanya tidak dapat diterapkan sembarangan, khususnya bagi kalangan yang memiliki kerentanan medis tertentu.
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr Ruri Pamela, SpDVE, secara tegas mengingatkan bahwa kebiasaan meminum ramuan ini berpotensi memicu permasalahan baru, terutama bagi individu dengan riwayat gangguan sistem pencernaan. Selain ancaman iritasi asam lambung, terdapat dua faktor risiko klinis lain yang krusial diperhatikan, yakni densitas kalori minyak zaitun serta potensi interaksi kimia dengan regimen obat yang sedang dikonsumsi.
Tiga Faktor Risiko Medis Campuran Minyak Zaitun dan Perasan Lemon
1. Bahaya Asam Lemon terhadap Penderita Asam Lambung dan GERD
Kandungan perasan buah lemon memiliki derajat keasaman yang tinggi. Pada individu yang memiliki riwayat penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), sifat asam sitrat tersebut dapat memicu kekambuhan gejala secara instan. Apabila kebiasaan ini dipraktikkan secara rutin dalam durasi jangka panjang, dinding mukosa lambung rentan mengalami gangguan serius. Bagi kelompok penderita gangguan pencernaan, ramuan ini belum tentu memberi dampak menyehatkan bagi tubuh.
2. Densitas Kalori Tinggi yang Berisiko Memicu Kenaikan Berat Badan
Minyak zaitun memang dikenal sarat akan profil asam lemak tak jenuh yang sehat. Kendati demikian, bahan nabati ini menyimpan kandungan energi yang tergolong masif. Dokter Ruri menggarisbawahi bahwa sifat “padat akan kalori” pada minyak zaitun kerap diabaikan oleh para pelakunya.
Jika dikonsumsi berlebihan tanpa memperhitungkan asupan total kalori harian dari makanan lain, kebiasaan ini dapat memicu surplus energi yang berujung pada lonjakan berat badan secara signifikan.
3. Risiko Interaksi Senyawa dengan Terapi Obat Pengencer Darah
Kewaspadaan ekstra wajib diterapkan oleh pasien yang tengah menjalani terapi medikasi harian, salah satunya pengguna obat antikoagulan atau pengencer darah. Menurut paparan dr Ruri, konsentrasi vitamin E dalam jumlah tinggi yang terkandung pada minyak zaitun berpotensi memengaruhi efektivitas maupun mekanisme kerja farmakologis dari obat tersebut.
Panduan Aman: Prioritaskan Konsultasi Medis dan Seleksi Mutu Bahan
Guna menghindari dampak negatif pada organ internal, masyarakat diimbau untuk tidak serta-merta menelan mentah-mentah setiap tren perawatan kulit yang beredar di ruang digital. Langkah paling bijak sebelum memutuskan meminum ramuan campuran tersebut setiap hari adalah melakukan konsultasi mendalam dengan dokter spesialis.
Apabila setelah evaluasi medis tubuh dinyatakan aman untuk mencoba, pastikan pemilihan bahan mengacu pada standar kualitas murni: gunakan buah lemon segar serta minyak zaitun berkualitas tinggi dengan label Extra Virgin Olive Oil (EVOO).
Mengenali Kondisi Tubuh Jauh Lebih Penting daripada Sekadar Mengikuti Tren
Edukasi kesehatan kulit sejatinya selalu menuntut kehati-hatian dan kepedulian terhadap profil biologis masing-masing individu. Mengenali kondisi tubuh sendiri, mengecek riwayat organ pencernaan, serta memastikan keamanan riwayat interaksi obat merupakan fondasi utama sebelum mencoba ramuan viral demi estetika fisik.












