Budaya

Borobudur Dirawat, Yasti dan Mahastupa Jadi Fokus Konservasi

Penulis: AyundaEditor: Ayn
×

Borobudur Dirawat, Yasti dan Mahastupa Jadi Fokus Konservasi

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau langsung pekerjaan tersebut untuk memastikan proses penanganan sesuai kaidah konservasi.
Example 468x60

Magelang, Jatimmandiri.id – Pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada bagian puncak Candi Borobudur menjadi perhatian dalam upaya menjaga kestabilan bangunan warisan dunia tersebut. Kementerian Kebudayaan kini menangani pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa dengan mengutamakan kajian ilmiah, keaslian material, serta metode pelestarian yang terukur.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau langsung pekerjaan tersebut untuk memastikan proses penanganan sesuai kaidah konservasi. Dalam kunjungan itu, ia melihat penguatan struktur yasti serta pembersihan penggaraman pada batu candi.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Batu andesit tentu harus ada konservasi. Iklim kita berubah, dan kondisi hujan sekarang berbeda dengan seratus atau dua ratus tahun lalu. Karena itu, kita perlu memastikan penanganan yang tepat agar batu dan relief Borobudur tetap terjaga,” ucap Menbud seperti dikutip dari web kemenbud.

Pemugaran yasti difokuskan pada pemulihan kestabilan susunan batu di puncak stupa induk. Sementara konservasi Mahastupa mencakup penanganan penggaraman, pelapukan, rongga, dan rekahan yang berpotensi mengurangi ketahanan material.

Fadli menegaskan, pelestarian Borobudur tidak cukup melalui pemugaran, tetapi harus disertai perawatan berkelanjutan. Paparan cuaca dan perubahan lingkungan dapat memengaruhi batu andesit, termasuk relief yang telah bertahan lebih dari seribu tahun.

“Relief-relief Borobudur yang sudah berusia lebih dari seribu tahun memerlukan penanganan yang tepat. Kita perlu memastikan perawatannya berkelanjutan, sehingga relief tetap terjaga ketajamannya dan batu tidak melunak atau mengalami kerusakan. Ini salah satu pekerjaan konservasi yang penting dan perlu dilakukan berdasarkan kajian yang cermat,” ungkapnya.

Pekerjaan yang dilaksanakan Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) tersebut didasarkan pada pemantauan dan kajian teknis Agustus 2026. Pemeriksaan menemukan pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada yasti serta harmika, disertai kerusakan material di stupa induk. Penanganan mengutamakan penggunaan material asli.
Fadli juga mengingatkan pengunjung agar ikut menjaga kelestarian candi dengan mematuhi ketentuan kunjungan dan menghindari tindakan yang dapat merusak batu maupun relief.

Baca Juga  Seberapa Simetris Gosong Gia?

“Tentu kita juga berharap kepada pengunjung untuk ikut memelihara, tidak memegang-megang, dan tidak memberikan zat kimia, cairan, atau apa pun yang bisa merusak relief Borobudur,” tegas Menbud

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Kedalaman dan bentuk dasar laut Gosong Gia tidak dapat dijelaskan hanya melalui kenaikan permukaan laut, karena…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Kenaikan permukaan laut setelah zaman es mengubah Sundaland dari bentang daratan luas menjadi wilayah yang sebagian…

Berita

Malang, Jatim Mandiri Semarak Hiburan Nostalgia Malang Classic sukses menjembatani pelaku UMKM dengan masyarakat melalui pameran produk lokal, kuliner, kendaraan…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Bentuk melingkar di dasar Laut Jawa yang dikaitkan dengan kota Atlantis oleh Insinyur Teknik Sipil Hidro,…