BeritaBudayaꦧꦸꦢꦪ

Seberapa Simetris Gosong Gia?

Editor: ibn
×

Seberapa Simetris Gosong Gia?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi eksplorasi bawah laut Gosong Gia menampilkan pusaka berbentuk trisula di antara struktur melingkar yang diselimuti terumbu karang.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Pola melingkar di dasar Laut Jawa menjadi petunjuk menarik, tetapi bentuk simetri belum membuktikan jejak kota kuno.

——————-

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bentuk melingkar, cekungan yang menyerupai cincin, dan bukit kecil di bagian tengah Gosong Gia menjadi petunjuk yang ditelaah Insinyur Teknik Sipil Hidro, Dhani Irwanto dalam hipotesisnya tentang Atlantis. Seberapa teratur pola tersebut, dan apakah geometri itu cukup kuat untuk menunjukkan struktur buatan manusia, masih memerlukan pengukuran serta pengujian independen di Laut Jawa.

Dalam kajian Dhani, Gosong Gia atau Annie Florence Reef dipandang sebagai lokasi yang layak diteliti karena bentuk dasar lautnya dinilai memiliki kemiripan dengan gambaran kota bercincin dalam kisah Plato. Ia menghubungkan pola tersebut dengan kemungkinan adanya bentang alam yang pernah berada di atas permukaan laut, kemudian tenggelam dan diselimuti pertumbuhan terumbu.

Data batimetri yang dikemukakan Dhani menunjukkan dua ciri utama: sebuah bukit kecil di dekat pusat dan cekungan melingkar di sekitarnya. Kedalaman area cekungan disebut berada pada kisaran 55–60 meter, sedangkan puncak terumbu dilaporkan berada sekitar 10 meter di bawah permukaan laut rata-rata.

Dhani menggunakan dua istilah untuk menjelaskan bentuk tersebut, yakni central knoll atau bukit kecil di bagian tengah, serta annular trough, yaitu cekungan berbentuk cincin yang mengelilingi bagian lebih tinggi. Dalam interpretasinya, kedua unsur itu menjadi titik pembanding dengan pola ruang kota Atlantis yang digambarkan Plato.

Namun, seberapa simetris bentuk itu sebenarnya? Apakah lingkarannya mendekati bulat sempurna, memiliki pusat yang konsisten, dan mempertahankan jarak relatif seragam dari satu sisi ke sisi lain? Pertanyaan tersebut penting karena kemiripan visual belum tentu berarti kesamaan struktur maupun asal-usul.

Baca Juga  Teka-Teki Sundaland dan Atlantis di Laut Jawa

Dalam bahan kajiannya, Dhani menyatakan pencitraan batimetri dan sonar di sekitar Gosong Gia seharusnya dapat memperjelas relief yang tersusun hampir konsentris, dengan cekungan melingkar dan sebuah bukit kecil di dekat bagian tengah. Pernyataan itu merupakan prediksi yang bisa diuji melalui pemetaan lebih rinci.

Untuk mengukur simetri, peneliti perlu memeriksa data kedalaman pada resolusi memadai, menentukan perkiraan pusat pola, lalu membandingkan bentuk dan jarak antarbagian. Pengukuran juga perlu mencakup variasi ketinggian, kelengkungan, serta kesinambungan lingkaran.

Multibeam sonar dapat menghasilkan peta kedalaman dasar laut secara terperinci. Sementara itu, side-scan sonar membantu memetakan karakter permukaan, dan sub-bottom profiler dapat menelusuri lapisan di bawah sedimen. Ketiganya memberikan informasi berbeda yang saling melengkapi.

Meski demikian, keteraturan geometri tidak otomatis menunjukkan campur tangan manusia. Bentuk melingkar atau menyerupai cincin juga dapat terbentuk melalui proses alam, termasuk pertumbuhan terumbu, erosi, pengendapan, dan perkembangan bentang dasar laut. Karena itu, bentuk yang tampak simetris harus dibandingkan dengan pola yang lazim di lingkungan geologi dan terumbu karang.

Dhani sendiri mengajukan model reef-mantled high, yakni bagian dasar laut yang relatif tinggi dan kemudian diselimuti pertumbuhan terumbu. Dalam model tersebut, pertumbuhan karbonat berperan mempertahankan bagian atas terumbu ketika permukaan laut berubah. Ia menilai model ini lebih sesuai dengan interpretasinya terhadap pola Gosong Gia, tetapi menyebut pemeriksaan material dan penentuan umur masih diperlukan.

Satu hal yang perlu dibedakan ialah keberadaan bentuk melingkar dan penjelasan mengenai asal-usulnya. Peta batimetri dapat menunjukkan relief, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa relief itu merupakan tembok, kanal, atau bagian kota kuno.

Demikian pula, kedalaman sekitar 55–60 meter tidak langsung menentukan umur suatu struktur. Peneliti harus memperhitungkan perubahan muka laut, penurunan atau pengangkatan dasar laut, sedimentasi, serta pertumbuhan terumbu. Penentuan umur membutuhkan sampel yang sesuai dan metode penanggalan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga  Menguji Hipotesis Atlantis di Laut Jawa

Tahap berikutnya dapat berupa pemeriksaan bawah laut menggunakan kendaraan kendali jarak jauh atau remotely operated vehicle (ROV), pengambilan inti sedimen, serta analisis batuan dan material. Jika ditemukan bahan yang diduga buatan manusia, asal-usul dan umurnya tetap harus diuji secara terpisah.

Pendekatan tersebut memberi ruang bagi hipotesis Dhani untuk diuji secara terbuka. Hasil yang mendukung maupun yang bertentangan dengan dugaan awal sama-sama penting bagi perkembangan pengetahuan tentang sejarah lingkungan dan kemungkinan aktivitas manusia di kawasan Sundaland.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang simetri Gosong Gia bukan sekadar apakah bentuknya menyerupai cincin. Yang lebih menentukan ialah seberapa konsisten pola itu terukur, apakah proses alam dapat menjelaskannya, dan apakah terdapat bukti material yang mengarah pada aktivitas manusia. (*/ibn)

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Jakarta, Jatim Mandiri Desakan politik terkait Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berlanjut melalui dorongan hak angket di DPR, rencana pelaporan…

Berita

Pamekasan, Jatim Mandiri Madura United FC bertekad bangkit pada pekan kelima BRI Super League 2026/2027. Menghadapi tim tangguh Bhayangkara FC,…

Berita

Sidoarjo, Jatim Mandiri – Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat akumulasi 6.149 laporan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam sepekan…