Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Pemetaan dasar laut Gosong Gia di Laut Jawa memperlihatkan pola melingkar, bukit kecil di bagian tengah, dan cekungan pada kedalaman 55–60 meter. Insinyur Teknik Sipil Hidro, Dhani Irwanto menafsirkan bentuk itu sebagai petunjuk yang menyerupai tata ruang kota dalam kisah Atlantis, tetapi asal-usulnya masih memerlukan pembuktian geologi dan arkeologi.
—————–
Pola ini menjadi salah satu dasar hipotesis Dhani yang menempatkan ibu kota Atlantis di sekitar Gosong Gia atau Annie Florence Reef. Ia menghubungkan bentuk dasar laut dengan gambaran kota bercincin konsentris dalam dialog Plato, Timaeus dan Critias.
Dalam kajiannya, Dhani menyebut tiga ciri utama yang menjadi pembanding. Ketiganya adalah formasi melingkar, bukit kecil dekat bagian tengah, serta kedalaman laut di sekitar terumbu yang mencapai sekitar 55 meter.
Data batimetri atau pengukuran kedalaman laut membantu menggambarkan relief dasar perairan. Teknologi multibeam memancarkan gelombang suara untuk mengukur kedalaman dari banyak titik, kemudian menyusun gambaran tiga dimensi permukaan dasar laut.
Dari gambaran tersebut, peneliti dapat mengenali tonjolan, cekungan, dan pola bentang dasar laut. Namun, peta batimetri menunjukkan bentuk permukaan, bukan langsung menjelaskan apakah bentuk itu terbentuk secara alami atau akibat aktivitas manusia.
Dhani menilai ketiga ciri Gosong Gia memiliki kemiripan dengan gambaran kota Atlantis yang dikelilingi lingkaran air dan daratan. Bukit kecil di bagian tengah juga dikaitkannya dengan bukit pusat dalam narasi Plato.
Dalam modelnya, Dhani mengajukan kemungkinan reef-mantled high, yakni bagian dasar laut yang relatif tinggi dan kemudian diselimuti pertumbuhan terumbu karang. Menurut model ini, pertumbuhan material karbonat dapat membantu mempertahankan bagian atas terumbu relatif dekat permukaan ketika muka laut naik.
“Pencitraan batimetri dan sonar di sekitar Gosong Gia seharusnya dapat memperjelas relief yang tersusun hampir konsentris, dengan pola cekungan melingkar dan sebuah bukit kecil di dekat bagian tengah,” ungkap Dhani.
Pernyataan itu menempatkan pemetaan sebagai tahap penting untuk memeriksa pola yang menjadi dasar hipotesisnya. Namun, kemiripan geometri belum cukup untuk memastikan keberadaan kota, dinding, kanal, atau bangunan kuno.
Bentuk melingkar juga dapat muncul melalui proses geologi dan pertumbuhan terumbu. Karena itu, peneliti perlu membandingkan hipotesis struktur buatan manusia dengan penjelasan alamiah, termasuk bentuk terumbu, sedimentasi, serta perubahan dasar laut.
Pemeriksaan berikutnya memerlukan teknologi yang dapat membaca lebih dari sekadar bentuk permukaan. Side-scan sonar membantu memetakan tekstur dasar laut, sedangkan sub-bottom profiler dapat mengungkap susunan lapisan di bawah permukaan sedimen.
Kendaraan bawah laut yang dioperasikan dari jarak jauh atau ROV juga dapat membantu mengamati lokasi terpilih. Jika ditemukan anomali yang relevan, pengambilan sampel dan inti sedimen dapat menguji susunan material serta hubungan antarlapisan.
Pemeriksaan laboratorium kemudian diperlukan untuk membedakan material alami dari kemungkinan bahan buatan manusia. Analisis petrografi dan mineralogi dapat memeriksa karakter batuan, sementara penanggalan yang sesuai dapat membantu menentukan umur terumbu dan lapisan sedimen.
Dalam tulisan Dhani, puncak Gosong Gia disebut berada sekitar 10 meter di bawah permukaan laut, sedangkan dasar laut di sekitarnya sekitar 55 meter. Ia menyebut angka itu berasal dari survei sonar yang belum dipublikasikan. Dia juga menegaskan perlunya pemeriksaan lanjutan.
Menurut Dhani, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apa yang berada di dalam terumbu. Artinya, interpretasi pola permukaan belum menjawab apakah ada struktur lebih tua yang tertutup pertumbuhan karbonat.
Sejauh ini, pemetaan yang dipaparkan Dhani menjadi dasar untuk menyusun dan menguji hipotesis tentang Gosong Gia. Sementara itu, belum ada bukti arkeologis independen yang memastikan lokasi tersebut sebagai bekas ibu kota Atlantis.
Perubahan muka laut sejak akhir zaman es memang mengubah bentang alam Paparan Sunda. Namun, fakta geologi itu tidak dengan serta merta membuktikan keberadaan kota yang digambarkan Plato. (*/ibn)












