Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Lapisan sedimen di dasar laut dapat menyimpan petunjuk tentang gelombang besar yang pernah menerjang daratan ribuan tahun lalu. Di sekitar Gosong Gia, Laut Jawa, penelitian geologi diperlukan untuk menguji dugaan Dhani Irwanto mengenai kemungkinan bencana purba sekitar 11.600 tahun lalu dan kaitannya dengan hipotesis Atlantis.
—————-
Gosong Gia, yang juga dikenal sebagai Annie Florence Reef, berada sekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik. Dhani menghubungkan kawasan ini dengan kemungkinan lokasi ibu kota Atlantis berdasarkan penafsirannya terhadap tulisan Plato dan perubahan lingkungan Sundaland pada akhir zaman es.
Dalam hipotesisnya, Dhani membedakan bencana yang berlangsung cepat dari perubahan permukaan laut yang terjadi secara bertahap. Ia menduga gempa dan gelombang besar menjadi pemicu kehancuran awal, sementara kenaikan permukaan laut kemudian mengubah bentang daratan.
“Banjir laut itu tsunami. Gempa dan tsunami saling terkait,” kata Dhani dalam diskusi daring yang diberitakan Mongabay Indonesia.
Dhani memperkirakan rangkaian perubahan alam tersebut berkaitan dengan akhir periode Younger Dryas, sekitar 11.600 tahun lalu. Ia mengaitkannya dengan gempa bumi, letusan gunung api, gelombang laut, dan banjir yang diduga memengaruhi kehidupan manusia.
Namun, hubungan antara peristiwa tersebut dan Gosong Gia belum dibuktikan melalui temuan geologi yang dapat diverifikasi secara independen. Dugaan waktu kejadian juga perlu diuji, bukan hanya dicocokkan dengan perkiraan perubahan permukaan laut.
Tsunami dapat membawa pasir, lumpur, pecahan karang, dan material lain ke wilayah yang diterjangnya. Endapan tersebut berpotensi meninggalkan lapisan dengan karakter berbeda dari sedimen yang terbentuk melalui proses laut sehari-hari.
Meski demikian, lapisan sedimen yang tidak biasa belum otomatis menunjukkan tsunami. Badai, arus kuat, perubahan garis pantai, dan proses geologi lainnya juga dapat memindahkan material serta membentuk endapan serupa.
Karena itu, peneliti perlu memeriksa ukuran butir, susunan lapisan, komposisi material, serta hubungan antarlapisan. Sampel juga perlu ditentukan umurnya dengan metode yang sesuai agar perkiraan waktu pengendapan dapat dibandingkan dengan kronologi yang diajukan.
Di kawasan seperti Gosong Gia, pemeriksaan tidak cukup hanya mengamati bentuk dasar laut. Pemetaan kedalaman, pemindaian lapisan di bawah dasar laut, dan pengambilan sampel terarah dapat membantu mengungkap rekaman perubahan lingkungan yang tertutup sedimen atau terumbu karang.
Perubahan besar Sundaland sejak akhir zaman es merupakan bagian dari sejarah geologi Asia Tenggara. Kenaikan permukaan laut menenggelamkan sebagian wilayah yang sebelumnya berupa daratan, tetapi proses tersebut tidak membuktikan bahwa tsunami tertentu terjadi di Gosong Gia.
Untuk menguji hipotesis Dhani, peneliti perlu menemukan bukti yang menunjukkan jenis peristiwa, perkiraan umur, dan lokasi pengendapan secara meyakinkan. Hasilnya harus dibandingkan dengan penjelasan alternatif dan penelitian independen.
Sampai saat ini, belum ada bukti arkeologis independen yang memastikan Gosong Gia sebagai bekas kota kuno. Demikian pula, dugaan tsunami sekitar 11.600 tahun lalu di lokasi tersebut masih membutuhkan dukungan data lapangan.
Penelitian semacam ini tetap penting untuk memperkaya pemahaman tentang perubahan pesisir dan bencana alam pada masa lampau. Bukti geologi dapat membantu menyusun sejarah lingkungan tanpa harus lebih dahulu menerima atau menolak hipotesis Atlantis. (*/ibn)












