Nganjuk, Jatimmandiri.id – Jejak pertemuan tradisi Jawa kuno dan perkembangan Islam di Jawa Timur dapat ditelusuri melalui Makam Mbah Nduro di Dusun Nanggungan, Desa Watudandang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Situs ini tidak hanya menjadi tujuan ziarah warga, tetapi juga menyimpan peninggalan arkeologis yang diperkirakan berasal dari rentang abad ke-13 hingga ke-16 Masehi.
Salah satu temuan penting di kompleks makam tersebut adalah nisan batu andesit dengan corak khas Troloyo-Demak. Batu itu memiliki ukiran busur makara serta motif tumpal atau medali yang menjadi bagian dari karakter visual peninggalan masa lampau.
Bentuk dan ragam hias nisan tersebut diperkirakan berkaitan dengan periode ketika pengaruh Islam mulai berkembang di Jawa Timur. Namun, penentuan usia dan hubungan historis setiap benda memerlukan kajian arkeologis lebih lanjut.
Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, Mbah Nduro merupakan tokoh dari lingkungan Kerajaan Majapahit yang memeluk Islam. Salah satu versi tutur masyarakat mengaitkannya dengan Patih Gajah Manduro. Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan kolektif warga mengenai perjalanan sejarah dan penyebaran Islam di kawasan Prambon.
Selain nisan, kawasan makam menyimpan sejumlah peninggalan lain, antara lain jirat bata berukuran besar, fragmen menhir dari masa megalitikum, serta batu dorpel. Keberadaan berbagai unsur tersebut menambah nilai penting situs sebagai objek yang perlu diteliti dan dilestarikan.
Makam Mbah Nduro telah masuk dalam upaya pelestarian cagar budaya sejak 1994. Status pencatatan tersebut menjadi salah satu penanda bahwa situs ini telah mendapat perhatian dalam upaya menjaga peninggalan sejarah setempat.
Warno, warga Dusun Nanggungan, mengatakan masyarakat telah menjaga makam tersebut sejak lama. Tradisi ziarah juga terus berlangsung, sekaligus menjadi sarana bagi warga untuk mengenal kisah leluhur mereka.
“Kami dari kecil sudah menjaga makam ini, banyak orang datang berziarah untuk mengenal sejarah leluhur kami,” ujarnya.
Harapan agar situs tersebut mendapat perhatian lebih juga disampaikan Pardi, warga Desa Watudandang. Ia menilai peninggalan yang masih tersisa perlu dijaga agar tidak rusak atau hilang seiring waktu.
“Banyak benda peninggalan leluhur yang masih ada di sini, kami berharap situs ini bisa dijaga agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya, Minggu (11/10/2026).
Keberadaan Makam Mbah Nduro memperlihatkan kekayaan jejak sejarah Nganjuk, khususnya di wilayah Prambon. Perpaduan peninggalan material dan cerita lisan masyarakat menjadikan situs ini penting bagi penelitian sejarah lokal, pengembangan wisata sejarah, serta edukasi generasi muda.
Pelestarian yang disertai pendataan, penelitian, dan perawatan berkelanjutan diperlukan agar nilai sejarah situs tetap terjaga tanpa mengabaikan tradisi masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.






