Surabaya, Jatim Mandiri
Puluhan sopir truk yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) masih bertahan di Jalan Jagir Wonokromo, Surabaya untuk meminta kepastian terkait akses BBM subsidi. Aksi yang berlangsung sejak Rabu (30/9) itu membuat Jalan Jagir ditutup dua arah dan arus kendaraan dialihkan, Kamis (1/10).
Massa memarkir truk-truk di depan Kantor Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus. Para sopir menunggu pihak Pertamina menemui mereka untuk membahas persoalan barcode BBM, kuota pembelian, serta akses BBM subsidi bagi kendaraan towing.
Koordinator GSJT Supriyono mengatakan, massa tetap bertahan hingga ada kepastian pertemuan dengan pihak Pertamina. “Masih bertahan. Belum ada info apakah mau menemui,” kata Supriyono, Kamis (1/10).
Menurut dia, aksi tersebut merupakan yang ketiga kalinya dilakukan dengan persoalan serupa. GSJT berharap persoalan dapat diselesaikan melalui pertemuan dengan pihak yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
“Ini tidak sekali dua kali, hari ini kami ketiga kalinya ke sini dengan kasus yang sama. Mediasi selalu diberikan, tetapi hanya dengan manajemen ritel saja, pasti dia tidak punya kewenangan untuk memutuskan,” ujarnya seperti dikutip detik.com.
Supriyono menyebut sejumlah tuntutan yang disampaikan, antara lain kejelasan barcode yang diblokir, kuota BBM yang berkurang, sulitnya pembuatan barcode, serta akses BBM subsidi bagi kendaraan towing.
“Kuota untuk armada besar itu bisa sampai 200 liter. Tapi kadang-kadang pas mau isi, hilang separuh. Pagi bisa isi, siang mau isi lagi sudah tidak bisa. Ini sangat rentan dan membuat pengiriman kami terganggu,” katanya.
Ia menyebut sejak Juni 2026 terdapat sekitar 150 kasus pemblokiran barcode yang dialami anggotanya. Menurut Supriyono, sebagian pengemudi kemudian terpaksa membeli BBM nonsubsidi atau Dex.
“Sistem barcode versi Pertamina adalah menjaga agar subsidi ini tepat sasaran, serta menjaga agar kawan-kawan itu tidak ada yang melakukan kegiatan yang berkaitan mafia migas,” jelasnya.
“Harapan kami simpel. Tolong segera selesaikan persoalan barcode ini supaya kami bisa kembali bekerja,” tambah Supriyono.
Aksi tersebut berdampak pada lalu lintas di sekitar Jalan Jagir. Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Galih Bayu Raditya mengatakan polisi menerapkan rekayasa lalu lintas untuk menjaga kelancaran arus kendaraan.
“Pihak Polrestabes Surabaya juga berusaha membantu dalam pengalihan arus untuk memperlancar pengendara yang hendak melewati Jalan Jagir,” kata Galih. Kendaraan dari arah Jalan Panjang Jiwo diarahkan lurus menuju Jalan Nginden. Sementara kendaraan dari arah Wonokromo menuju Jagir dialihkan melalui Jalan Ngagel dan Jalan A. Yani.
“Untuk arus lalu lintas di depan Jalan Jagir, Wonokromo sampai saat ini masih ditutup dua arah imbas demo GSJT. Kami imbau agar masyarakat menggunakan jalan alternatif,” ujarnya.
Di kawasan Pasar Jagir Wonokromo, aktivitas perdagangan tetap berlangsung. Namun, sejumlah pedagang mengaku jumlah pembeli menurun karena akses kendaraan menuju pasar terbatas. “Pasar masih buka, tapi sepi. Jadi sepi karena jalannya ditutup, nggak bisa lewat,” kata pedagang buah, Ali, 25.
Supriyono mengatakan massa akan membubarkan diri apabila persoalan dapat dibahas dan diselesaikan bersama pihak Pertamina. “Kalau hari ini selesai kami juga akan bubar dari Pertamina,” pungkasnya. (*/ibn)












