Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Peneliti Dhani Irwanto mengembangkan pendekatan semiotik-linguistik untuk membaca kisah Atlantis sebagai rangkaian petunjuk geografis yang dapat diuji melalui geologi, paleogeografi, arkeologi, dan disiplin lain. Pendekatan itu membuka kemungkinan penelitian baru tentang hubungan teks Plato dengan perubahan lingkungan dan bentang alam Sundaland, tanpa menempatkannya sebagai bukti pasti keberadaan Atlantis.
——————
Dalam sejumlah kajian pada 2025, Dhani Irwanto menghubungkan kata, makna, lingkungan, geologi, hingga bukti independen untuk melihat apakah berbagai petunjuk mengarah pada rekonstruksi geografis yang sama.
Dhani memperkenalkan kerangka semiotik-linguistik untuk rekonstruksi sejarah. Dalam paper Agustus 2025, mitos, legenda, dan teks kuno ditempatkan sebagai sistem tanda yang kemungkinan menyimpan fragmen ingatan sejarah.
Pendekatan tersebut kemudian diterapkan secara khusus pada Atlantis melalui kajian terhadap Timaeus dan Critias. Dhani membaca kedua teks itu sebagai kumpulan tanda terstruktur, kemudian menyusunnya menjadi model geografis yang dapat diuji.
Cara kerjanya seperti membongkar sebuah kode. Sebuah kata ditentukan makna dan konteksnya, kemudian dicari kemungkinan rujukan geografisnya untuk dibandingkan dengan kondisi lingkungan.
Data geologi, paleogeografi, arkeologi, oseanografi, linguistik, dan disiplin lainnya kemudian digunakan untuk menguji apakah kecocokan tersebut berdiri secara independen. Dhani menyebut pendekatan itu sebagai konsiliensi. Yakni pengujian ketika bukti dari bidang berbeda dan tidak saling bergantung mengarah pada kesimpulan yang sama.
Dalam kerangka itu, satu kata atau gambaran dalam teks tidak cukup. Interpretasi menjadi lebih kuat apabila petunjuk bahasa bertemu dengan bukti bentang alam, data dasar laut, perubahan garis pantai, dan temuan arkeologis.
Dhani menilai deskripsi Plato mengenai curah hujan tinggi, air melimpah, tanah subur, kayu berlimpah, serta wilayah dengan dua musim menunjukkan lingkungan tropis. “Ini menunjukkan daerah Atlantis beriklim tropis. Hanya tiga kemungkinan, Amerika Tengah, Afrika tengah atau Asia Tenggara,” ujar Dhani.
Dalam penafsirannya, ciri itu kemudian dibandingkan dengan bentang alam Sundaland pada masa permukaan laut lebih rendah, ketika Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya masih terhubung dalam satu kawasan daratan.
Dhani juga menghubungkan keterangan Plato mengenai pelabuhan, pulau-pulau, dan armada dengan tradisi maritim Asia Tenggara. “Tradisi maritim tinggi. Melihat sejarah peradaban, kemungkinan hanya di Asia Tenggara,” kata Dhani.
Pernyataan tersebut tetap merupakan interpretasi peneliti dan belum menjadi kesimpulan arkeologis yang diterima secara luas.
Dalam rekonstruksinya, perubahan lingkungan Sundaland menjadi unsur penting untuk menjelaskan kemungkinan tenggelamnya sebagian daratan. “Peta bumi 11.600 tahun, Pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatera masih terhubung dalam satu daratan, disebut Sundalandia,” kata Dhani.
Data geologi menunjukkan paparan Sunda mengalami perubahan besar sejak akhir zaman es. Rekonstruksi Sundaland yang dipresentasikan Danny Hilman Natawidjaja di AIPI pada 2024 juga menunjukkan kondisi muka laut yang jauh lebih rendah sekitar 12.000 tahun lalu.
Namun, perubahan paleogeografi tersebut menunjukkan perubahan bentang alam, bukan otomatis membuktikan keberadaan Atlantis. Dhani memperkirakan ibu kota Atlantis berada di Laut Jawa, sekitar Gosong Gia atau Annie Florence Reef, sekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik. “Hasil penelitian saya. Kotanya, ibukota Atlantis itu ada di Laut Jawa,” kata Dhani.
Ia kemudian menyamakan bentuk terumbu tersebut dengan gambaran kota bercincin konsentris dalam teks Plato. Namun, belum ada penggalian arkeologis atau temuan artefak yang secara independen mengonfirmasi Gosong Gia sebagai bekas kota kuno. Karena itu, lokasi tersebut tetap merupakan hipotesis penelitian. (*/ibn)












