Beritaꦧꦸꦢꦪ

Dua Fase Kehancuran Atlantis

Editor: ibn
×

Dua Fase Kehancuran Atlantis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi dua fase kehancuran Atlantis, dari bencana mendadak hingga proses penenggelaman dan pendangkalan yang berlangsung dalam jangka panjang.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Atlantis dalam pembacaan terbaru Dhani Irwanto tidak semata-mata hilang karena satu peristiwa. Melainkan melalui dua fase bencana, yakni kehancuran mendadak dan perubahan lingkungan dalam jangka panjang. Pembacaan itu membuka pertanyaan baru tentang hubungan gempa, banjir, penurunan daratan, serta pendangkalan laut dalam kisah Atlantis yang ditulis Plato.

———————

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dhani Irwanto, dalam kajian terbarunya terhadap Timaeus dan Critias, membedakan dua garis waktu naratif sekaligus dua fase katastrofi dalam kisah tersebut. Ia menyebut fase pertama sebagai kehancuran seketika. Sedangkan fase kedua berupa penurunan daratan dan pendangkalan yang berlangsung dalam jangka panjang.

Dalam abstrak penelitiannya, Dhani secara eksplisit menyebutnya sebagai “Phase I (instant devastation) and Phase II (long-term subsidence and shoaling).” Pembagian itu membuat kisah Atlantis dapat dibaca bukan sekadar sebagai cerita tentang sebuah pulau yang tenggelam. Tetapi sebagai rangkaian perubahan lingkungan dengan skala waktu berbeda.

Dalam Timaeus 25d, Plato menggambarkan gempa bumi dan banjir besar yang kemudian menyebabkan Atlantis tenggelam dalam satu hari dan satu malam. Namun, bagian berikutnya juga menyebut laut di kawasan tersebut menjadi dangkal dan sulit dilalui karena lumpur yang terbentuk ketika pulau itu tenggelam.

Bagi Dhani, dua keterangan tersebut membuka kemungkinan pembacaan berbeda terhadap proses kehancuran Atlantis. Peristiwa awal dapat dipahami sebagai bencana cepat, sedangkan kondisi laut dangkal yang disebut masih bertahan “hingga sekarang” dalam narasi Plato dapat dibaca sebagai gambaran perubahan lanjutan.

Artinya, kehancuran mendadak dan perubahan bentang laut tidak harus dianggap sebagai satu proses dengan kecepatan yang sama.

Dari perspektif geologi modern, pembedaan tersebut memiliki konteks yang menarik. Gempa besar dapat menyebabkan perubahan vertikal pada dasar laut dan memicu tsunami dalam waktu relatif singkat.

Baca Juga  Mengulas Game Atlantis dari Kacamata Nusantara

Sementara itu, perubahan posisi daratan terhadap permukaan laut dapat berlangsung melalui mekanisme yang lebih panjang, termasuk penurunan daratan dan perubahan muka laut. Kawasan Sundaland sendiri mempunyai sejarah geologi yang kompleks.

Peneliti Geologi dan Kebencanaan BRIN Danny Hilman Natawidjaja menyebut Sundaland berada di persimpangan sejumlah lempeng tektonik. “Sundaland merupakan satu-satunya daratan yang tenggelam di kawasan tropis,” kata Danny dalam lokakarya penemuan ilmiah Paparan Sunda.

Danny menjelaskan, pada zaman es terakhir permukaan laut berada sekitar 130 meter lebih rendah dibanding kondisi sekarang. Sekitar 9.600 SM, permukaan laut masih sekitar 60 meter lebih rendah dari daratan Sundaland.

Ketika es mencair, permukaan laut meningkat dan secara bertahap menenggelamkan sebagian kawasan Sundaland. Proses tersebut berbeda karakter dengan gempa atau tsunami yang dapat menghasilkan perubahan mendadak.

Perbedaan skala waktu tersebut menjadi bagian penting dalam membaca kembali kisah Atlantis. Kenaikan muka laut tidak serta-merta menjelaskan seluruh gambaran kehancuran. Sementara gempa atau tsunami juga tidak otomatis menjelaskan perubahan lingkungan yang bertahan dalam waktu panjang.

Karena itu, model dua fase yang diajukan Dhani masih berada pada wilayah hipotesis yang perlu diuji. Kajian tersebut belum menjadi bukti bahwa Atlantis secara historis benar-benar berada di Sundaland.

Pengujian dapat dilakukan dengan mencari jejak geologi yang memiliki karakter berbeda. Lapisan endapan tsunami, perubahan sedimen, deformasi dasar laut, serta rekaman perubahan garis pantai purba dapat menjadi bahan penelitian.

Pada saat bersamaan, ahli teks Yunani juga perlu menguji apakah istilah dan struktur narasi Plato memang memungkinkan pembacaan dua fase tersebut.

Pendekatan lintas disiplin menjadi penting karena teks kuno dan data geologi mempunyai jenis bukti yang berbeda. Teks memberikan gambaran naratif, sedangkan geologi menguji apakah suatu proses alam pernah terjadi pada ruang dan waktu tertentu.

Baca Juga  Pasien PPDS Pulang, Dugaan Keracunan Ditelusuri

Dengan pendekatan itu, pertanyaan mengenai Atlantis dapat bergeser dari sekadar mencari lokasi kota yang hilang menjadi upaya memahami proses yang mungkin membentuk lanskap masa lalu.

Jika suatu saat ditemukan kesesuaian antara catatan teks dan bukti geologi, pemahaman mengenai perubahan Sundaland juga dapat semakin kaya.

Namun, selama bukti tersebut belum ditemukan, pembacaan dua fase tetap harus ditempatkan sebagai hipotesis penelitian. Nilainya justru terletak pada pertanyaan baru yang dapat diuji secara ilmiah, bukan pada kesimpulan bahwa misteri Atlantis telah terpecahkan. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Aichi-Nagoya, Jatim Mandiri Timnas Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Indonesia sukses melaju ke final Asian Games 2026 setelah menundukkan Mongolia…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Tiga anggota DPRD dari Kabupaten Malang, Banyuwangi, dan Situbondo disebut diamankan dalam penggerebekan dugaan penyalahgunaan narkoba oleh…

Berita

Jakarta, Jatim Mandiri – EVOS memastikan Albert Neilsen Iskandar atau Alberttt tetap menjadi jungler utama setelah menyelesaikan tugas bersama Timnas…