ꦧꦸꦢꦪ

Kenduri Banyu Udan Cara Warga Sardonoharjo Minta Hujan

Penulis: AyundaEditor: Ayn
×

Kenduri Banyu Udan Cara Warga Sardonoharjo Minta Hujan

Sebarkan artikel ini
Gelaran tari yang menjadi bagian dari tradisi Kenduri Banyu Udan yang diinisiasi oleh warga Sardonoharjo dalam rangka berdoa meminta hujan turun di tengah krisis air, Rabu, 9 September 2026.
Example 468x60

Sleman, Jatimmandiri.id –  Krisis air di tengah musim kemarau mendorong warga Kelurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, bersama Komunitas Banyu Bening menggelar tradisi Kenduri Banyu Udan, Rabu (9/9).
Tradisi tahunan tersebut menjadi ikhtiar warga untuk memanjatkan doa agar hujan segera turun sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Sekolah Air Hujan Banyu Bening itu diawali doa keselamatan. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan mengelilingi panggung sebanyak tujuh kali. Ketua Komunitas Banyu Bening Sri Wahyuningsih menjelaskan, putaran tersebut memiliki makna sebagai simbol pembersihan diri.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Menurut Sri, angka tujuh juga dimaknai sebagai permohonan pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar berbagai persoalan dan bencana yang terjadi di Indonesia segera berakhir.

Rangkaian tradisi berlanjut dengan kirab bregada yang membawa gunungan hasil bumi serta gunungan air hujan yang dikemas dalam plastik. Kedua gunungan itu kemudian dirayah atau diperebutkan warga sebagai simbol harapan memperoleh keberkahan.

“Rebutan air ini menggambarkan simbol saat ini yang terjadi. Orang rebutan air di mana-mana, tapi salah satunya juga memberikan gambaran secara filosofi bahwa air itu hak publik dan untuk semua makhluk Tuhan di bumi,” kata Sri Wahyuningsih saat ditemui di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Rabu, 9 September 2026.

Selain kirab, Kenduri Banyu Udan diwarnai pertunjukan tari dengan properti kendi berisi air hujan. Air yang dibawa para penari dituangkan ke dalam sebuah kendi besar. Prosesi tersebut menjadi bagian dari doa sekaligus ungkapan syukur atas keberadaan air sebagai sumber kehidupan.

Sri berharap tradisi tersebut tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Menurut dia, kegiatan itu juga dapat menjadi pengingat agar masyarakat ikut mengambil peran dalam menghadapi persoalan krisis air, antara lain dengan menjaga lingkungan dan keseimbangannya.

Baca Juga  Kongres Kebudayaan Gali Jejak Nusantara

Dalam kegiatan itu, warga juga diajak mendoakan para korban bencana kebakaran hutan dan lahan serta erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi baru-baru ini.

“Ini menjadi satu bentuk keprihatinan. Dan ini memang agenda tahunan yang harapannya dengan adanya kegiatan ini bisa dari sedikit dimulai untuk menyelesaikan permasalahan ini,” ucap Sri.

Salah seorang warga Ngaglik, Murniati, turut mengikuti rayahan gunungan hasil bumi. Ia mendapatkan sawi dan kacang panjang yang rencananya dimasak untuk disantap bersama keluarganya.

Bagi Murniati, kegiatan tersebut merupakan pengalaman pertama mengikuti rayahan gunungan hasil bumi. Ia berharap hasil yang diperolehnya membawa keberkahan sekaligus menjadi bagian dari doa agar hujan segera turun.

“Semoga lekas turun hujan, airnya banyak, dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Harapannya bencana juga bisa segera berakhir dan bisa ditangani pemerintah,” ujar Murniati.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Geolog Danny Hilman Natawidjaja membandingkan bentang Sundaland dengan uraian Atlantis karya Plato dan memperkirakan kecocokannya sekitar…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Geolog Danny Hilman Natawidjaja mengajak publik melampaui perdebatan lokasi Atlantis dengan meneliti kemungkinan kehidupan dan peradaban…