Jakarta, Jatimmandiri.id– Kerugian sekitar Rp10 miliar akibat dugaan penipuan investasi dan tabungan tidak hanya menjadi persoalan materi bagi pasangan musisi Tantri Kotak dan suaminya, Arda Hatna. Kasus yang diduga melibatkan orang dari lingkaran pertemanan dekat itu juga meninggalkan trauma dan mengganggu rasa percaya mereka terhadap orang di sekitar.
Arda mengakui pengalaman tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga. Terlebih, orang yang diduga terlibat merupakan sosok yang sebelumnya telah mereka kenal dekat. Kondisi itu membuat persoalan yang mereka hadapi tidak berhenti pada kerugian finansial, tetapi juga memunculkan kecurigaan dan trust issue.
“Harapannya itu tadi sih bahwa ditipu itu adalah pelajaran yang nggak ada di buku,” ujar Arda saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026), dalam Tribunnews.com.
Arda berharap pengalaman tersebut dapat menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan tawaran investasi, termasuk yang datang dari orang yang telah dikenal.
“Karena orang-orang yang kadang menusuk kita dari blind spot kita adalah kadang biasanya orang-orang yang dekat dan tahu bagaimana blind spot kita,” pungkasnya.
Kasus tersebut kini telah dilaporkan kepada kepolisian. Namun, proses hukum yang berjalan diakui turut menguras waktu dan energi keluarga. Mereka harus kembali mengingat serta menjalani berbagai tahapan penanganan perkara yang berkaitan dengan pengalaman tersebut.
“(Mengenai) Kondisi karena kasus ini, ya pasti menguraslah ya, menguras energi, menguras waktu,” kata Arda.
Dalam kondisi itu, Tantri disebut menjadi pihak yang paling berat mengalami tekanan mental. Arda pun mengambil peran lebih besar untuk mendampingi istrinya selama menghadapi persoalan hukum sekaligus memulihkan kondisi psikologisnya.
Keluarga kemudian menjadi tempat utama bagi Tantri untuk mendapatkan dukungan. Arda mengatakan mereka memilih kembali mendekatkan diri kepada keluarga dan mengurangi tekanan dari luar.
“Akhirnya dia kembali lagi ke keluarga,” ujarnya.
Menurut Arda, kehadiran keluarga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Perhatian, pelukan dan rasa aman dari orang-orang terdekat membantu Tantri melewati masa sulit tersebut.
“Bahwa ya sih dalam kasus-kasus seperti ini pentingnya keluarga untuk memeluk dan tahu tujuan bahwa dia pulang itu ada keluarga,” tutur Arda.
Pendampingan keluarga perlahan membuat kondisi mental Tantri mulai membaik. “Makanya mentalnya sedikit demi sedikit tertata,” lanjutnya.
Di sisi lain, proses hukum masih berlanjut karena terduga pelaku utama belum tertangkap. Sosok yang disebut merupakan teman dekat Tantri tersebut hingga kini masih buron.
“Kan orangnya masih buron,” katanya.
Arda mengapresiasi pemberitaan media dan penyebaran foto terduga pelaku oleh kepolisian. Langkah itu dinilai dapat membantu masyarakat memberikan informasi jika mengetahui keberadaannya.
“Terima kasih diberitain, jadi mungkin ada orang yang masih sampai hari ini kepolisian bergerak. Ada masyarakat yang, ‘Mas, di sini Mas lokasinya,’ karena fotonya sudah sebar kepolisian,” ungkapnya.
Arda juga menduga kemungkinan terduga pelaku tidak bekerja sendirian. Namun, ia menyerahkan kepastian mengenai hal tersebut kepada penyidik.
“Ya terduga mungkin nggak cuma sendiri, cuma kita nggak mau belum tahu dari pihak kepolisian,” ujarnya.
Kasus ini mencuat pada Juni 2026 setelah Tantri menyampaikan persoalan tersebut melalui media sosial. Terduga pelaku berinisial PN (Poppy Nupitasari) atau MIH diketahui telah mengenal Tantri sejak 2021 melalui komunitas ibu-ibu di sekolah anak mereka.
Hubungan yang awalnya sebatas pertemanan kemudian berkembang menjadi kerja sama bisnis. Pada 2025, terduga pelaku menawarkan sejumlah skema usaha, mulai dari sistem lelang (auction), pre-order produk hingga investasi.
Kedekatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun membuat Tantri memberikan kepercayaan. Dalam prosesnya, terduga pelaku disebut juga beberapa kali meminta bantuan dengan menceritakan kondisi pribadi untuk meyakinkan Tantri menanamkan modal.
Kini, selain mengawal proses hukum, Tantri dan Arda berusaha menata kembali kondisi keluarga. Bagi mereka, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, bahkan ketika tawaran datang dari orang yang berada dalam lingkaran terdekat.












