Kota Batu, Jatim Mandiri
Pemkot Batu mematangkan proposal nominasi Jejaring Kota Kreatif UNESCO/UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 melalui briefing lintas sektor, Senin (31/8), menjelang seleksi nasional tahap II pada hari ini (2/9). Batu mengusung ekosistem gastronomi pegunungan yang memadukan pertanian, warisan pangan, UMKM, desa wisata, dan pariwisata berkelanjutan.
Briefing strategis yang dipimpin Wali Kota Batu Nurochman itu menjadi tahap akhir penyelarasan materi paparan dan penguatan narasi dossier. Konsolidasi juga dilakukan untuk memastikan kesiapan seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan.
Kota Batu sebelumnya dinyatakan lolos seleksi nasional tahap I oleh Kementerian Ekonomi Kreatif. Pada tahap berikutnya, tim Kota Batu akan mempresentasikan proposal nominasi di hadapan Panitia Seleksi Nasional.
Tim tersebut terdiri atas Wali Kota Nurochman, Kepala Bappelitbangda Bangun Yulianto, Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi, serta Koordinator Tim Dossier UCCN Alan W. Hafiluddin.
Mereka mendapat waktu 10 menit untuk memaparkan visi, tata kelola, dampak, dan kontribusi internasional Kota Batu apabila bergabung dalam jejaring kota kreatif dunia.
Nurochman menegaskan, keikutsertaan dalam seleksi UCCN merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Kota Batu sebagai salah satu pusat gastronomi berbasis pertanian di Indonesia.
Kota Batu mengusung tema “Batu Agrokreatif—From Mountain Agriculture to Global Gastronomy”. Konsep itu menempatkan gastronomi sebagai warisan budaya hidup yang terhubung dengan alam pegunungan, pertanian, pelaku UMKM pangan, dan pengalaman wisata.
Dossier Kota Batu menawarkan lima kekuatan utama. Pertama, pertanian dataran tinggi yang menghasilkan apel, jeruk, stroberi, kopi, susu, dan berbagai komoditas hortikultura.
Kedua, warisan pangan yang masih hidup melalui Sego Empok, Jenang Suro, Serabi Suro, dan Tempe Beji. Ketiga, sistem pangan berbasis komunitas yang melibatkan petani, koperasi, UMKM, pasar rakyat, hotel, restoran, dan desa wisata.
Keempat, arus wisatawan menjadi pasar bagi produk lokal dan pengalaman gastronomi. Kelima, konsep farm-to-experience yang menghubungkan kebun, sentra produksi, festival, destinasi kuliner, dan 24 desa wisata.
Melalui pengembangan gastronomi, Kota Batu juga ingin menjawab tantangan regenerasi petani, alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan peningkatan daya saing produk lokal.
Upaya tersebut ditopang kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, dan lembaga pendukung. Sinergi itu menjangkau sektor pertanian, pariwisata, perdagangan, pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi kreatif. (yf/ibn).












