Intisari Berita:
- Prof. Asrorun Ni’am Sholeh meresmikan Markas MA IPNU di Ponpes Al Wahabiyah 2 Tambakberas saat Muktamar ke-35 NU di Jombang.
- Kader muda IPNU dan IPPNU diingatkan tidak menunda proses kepemimpinan dan kaderisasi hanya karena merasa masih berusia muda.
- Ketum MA IPNU mencontohkan KH Abdul Wahab Hasbullah yang telah matang berproses dan mendirikan NU sebelum usia 40 tahun.
Jombang, Jatimmandiri.id — Ketua Umum Presidium Pusat Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU), Prof. Asrorun Ni’am Sholeh, memberikan pesan mendalam bagi para kader muda Nahdlatul Ulama (NU), khususnya yang berhimpun di IPNU dan IPPNU. Para kader diimbau tidak terlena oleh ilusi usia muda yang berpotensi menunda proses pendewasaan diri dan kesiapan menjadi pemimpin masa depan.
Penegasan tersebut disampaikan Prof. Asrorun Ni’am saat meresmikan Markas MA IPNU yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Wahabiyah 2, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026). Markas ini disiapkan sebagai titik silaturahmi, pusat diskusi, ruang koordinasi, sekaligus tempat singgah bagi muktamirin serta keluarga besar MA IPNU dari berbagai penjuru tanah air hingga luar negeri selama agenda Muktamar ke-35 NU berlangsung.
“Jangan merasa masih muda terus. Apalagi teman-teman IPNU, jangan berpikir, ‘Saya masih muda, nanti saja.’ Jangan. Waktu itu tidak sejauh yang kita bayangkan,” tegas Prof. Asrorun Ni’am di hadapan para kader yang disambut gelak tawa hadirin.
Refleksi Historis KH. Abdul Wahab Hasbullah: Matang Sebelum Usia 40 Tahun
Untuk memperkuat pesannya, Prof. Asrorun merefleksikan rekam jejak perjuangan salah satu muassis (pendiri) NU, KH. Abdul Wahab Hasbullah. Tokoh sentral tersebut telah melewati rentang panjang menuntut ilmu, membina jejaring pergerakan, dan aktif berorganisasi jauh sebelum jamiyyah Nahdlatul Ulama dideklarasikan.
Secara historis, KH. Wahab Hasbullah diperkirakan lahir pada 1887 atau 1888, sementara Nahdlatul Ulama didirikan pada 1926. Menurut perhitungan matematis, beliau ikut membidani lahirnya organisasi Islam terbesar ini sebelum menginjak usia 40 tahun.
“Kalau ditarik secara matematis, usia beliau belum sampai 40 tahun, sekitar 37 atau 38 tahun. Jadi kalau kita dudukkan dalam konteks hari ini, usia seperti itu sebenarnya sudah jauh berjalan dalam proses kaderisasi dan pengabdian,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kebesaran nama Kiai Wahab bukan hasil instan, melainkan buah dari tempaan di berbagai ruang dan medan perjuangan.
“KH. Wahab Hasbullah sebelum mematangkan diri hingga menjadi salah satu tokoh penting NU sudah berproses. Beliau berproses di berbagai tempat dan dalam berbagai ruang,” imbuh Prof. Asrorun.
Kepemimpinan Tidak Instan, Kader Dituntut Ambil Peran Nyata
Prof. Asrorun mengingatkan bahwa regenerasi kepemimpinan memerlukan fondasi belajar, berorganisasi, dan pengabdian yang kokoh. Masa muda seharusnya menjadi fase paling produktif untuk mengasah kapabilitas diri, bukan sekadar pelengkap administratif keorganisasian.
“Menjadi tokoh dan pemimpin itu tidak lahir secara instan. Ada proses panjang yang harus dijalani. Karena itu, jangan merasa masih muda lalu menunda proses. Waktu berjalan lebih cepat dari yang kita bayangkan,” tuturnya seraya mendorong kader IPNU dan IPPNU untuk proaktif berkontribusi bagi kemaslahatan jamiyyah, bangsa, dan negara.
“Jangan tunggu tua untuk mulai berproses. Karena ketika merasa masih punya banyak waktu, bisa jadi waktu justru sudah berjalan terlalu jauh,” pesannya.
Simpul Konsolidasi Alumni IPNU di Arena Muktamar ke-35 NU
Agenda peresmian markas konsolidasi di Tambakberas ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan alumni senior IPNU lintas generasi, di antaranya:
- Romahurmuziy (Gus Romi): Putra dari muassis IPNU, almarhum KH. Tolchah Mansur.
- Mundjidah Wahab: Putri dari muassis NU, almarhum KH. Abdul Wahab Hasbullah.
- Idy Muzayyad: Komisioner BAZNAS RI sekaligus kader senior IPNU.
- Tokoh PCNU & PWNU: Sejumlah alumni binaan IPNU yang saat ini mengemban amanah di struktur kepengurusan wilayah dan cabang NU.
Keberadaan Markas MA IPNU di Pondok Pesantren Al Wahabiyah 2 Tambakberas difungsikan sebagai episentrum menghidupkan kembali dialektika intelektual, tradisi kaderisasi yang mengakar, serta soliditas pengabdian generasi muda Nahdlatul Ulama dalam menyukseskan Muktamar ke-35 NU di Jombang.












