Surabaya, Jatimmandiri.id – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengukuhkan 1.958 lulusan dari jenjang diploma, sarjana, magister, hingga doktor dalam prosesi wisuda yang berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu (22–23/8/2026).
Di balik riuk kegembiraan para wisudawan, kampus Merah Putih ini turut menghadirkan aksi kepedulian sosial melalui penggalangan donasi bagi warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Rektor Untag Surabaya, Dr Harjo Seputro ST MT, menegaskan bahwa wisuda kali ini mengusung tema Berkarya untuk Bangsa, Berdampak bagi Dunia.
Tema tersebut dirancang sebagai lecutan semangat agar para alumni mampu memberikan kontribusi nyata di tingkat nasional maupun internasional.
“Maknanya kami memotivasi para lulusan untuk selalu berkarya. Kemudian karya itu harus bisa memberikan dampak bagi masyarakat di tingkat nasional maupun internasional,” kata Harjo.

Guna melecut dorongan tersebut, Untag Surabaya menghadirkan pembicara spesial yang merupakan alumni Program Studi Teknik Arsitektur dan kini berkarier di perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Kehadiran beliau saya yakin akan memberikan motivasi kepada para lulusan bahwa dari kampus merah putih Untag Surabaya bisa berkarya untuk dunia,” ujarnya.
Tak sekadar seremoni akademik, momen ini dimanfaatkan Untag Surabaya untuk menyerahkan donasi kemanusiaan senilai Rp97 juta yang dihimpun oleh Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) Untag Surabaya.
Bantuan tersebut nantinya diintegrasikan dengan gerakan Sahabat NTT dan disalurkan langsung ke titik lokasi terdampak melalui kerja sama dengan pihak ketiga.
“Nanti kita gabung dengan donasi Sahabat NTT. Kita akan menghimpun dana dari kita Sahabat NTT. Kita gabung yang dari alumni, kemudian nanti ada tim yang bekerja sama dengan pihak ketiga yang nanti akan datang mendatangi di NTT,” jelas Harjo.
Meski wilayah NTT diterpa bencana, Harjo memastikan seluruh mahasiswa asal NTT yang dijadwalkan wisuda dapat hadir secara penuh.
“Alhamdulillah yang wisuda hari ini memang ada lulusan dari NTT, Alhamdulillah hadir semua,” ungkapnya.
Salah satu lulusan yang merasakan momen emosional ini adalah Markus Andrianus Sumardi, wisudawan Program Studi Administrasi Niaga Fisip Untag Surabaya asal Larantuka, Flores Timur.
Markus hanya didampingi sang ibu karena anggota keluarga lainnya masih bertahan di daerah asal.
Meski wilayah kediamannya tidak mengalami kerusakan parah, Markus sempat panik lantaran jaringan komunikasi sempat terputus pascagempa.
“Kalau daerah saya itu di Flores Timur guncangannya sedikit saja. Tidak terlalu parah juga,” ujar Markus yang mengetahui kabar bencana tersebut pertama kali lewat media sosial sebelum berhasil menghubungi keluarganya.
Mewakili kerabat dan rekannya yang terdampak, Markus menyampaikan apresiasi atas kepedulian civitas akademika Untag Surabaya. Ia berharap bantuan dapat segera menjangkau warga yang membutuhkan.
“Harapan saya semoga gerak cepat saja untuk sumbangan itu buat warga-warga terdampak di Flores,” tutur Markus yang berencana menetap sementara waktu di Surabaya.












