Jatim

Di Lereng Wilis, Perbedaan Bertemu dalam Jejak Pemikiran Tan Malaka

×

Di Lereng Wilis, Perbedaan Bertemu dalam Jejak Pemikiran Tan Malaka

Sebarkan artikel ini
Bunga ditaburkan dan doa dipanjatkan di Makam Tan Malaka.
Example 468x60

Kediri, Jatimmandiri.id – Kabut tipis dan suasana tenang lereng Gunung Wilis biasanya membuat Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, terasa jauh dari hiruk-pikuk.

Namun suasana berbeda terasa di kawasan makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Pahlawan Nasional Tan Malaka.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bunga ditaburkan, doa dipanjatkan, dan orang-orang dari latar belakang agama, organisasi serta komunitas yang berbeda duduk dalam satu ruang yang sama.

Bukan untuk mempertentangkan perbedaan, melainkan berbicara tentang satu hal yang menyatukan mereka. Yakni, Indonesia.

Warga, perangkat desa, Modin se-Kecamatan Semen, paguyuban kepala desa, Forkopimcam, hingga perwakilan Pemkab Kediri dari Kesbangpol, Disbudpar dan Kemenag hadir dalam kegiatan tersebut.

Sejumlah organisasi keagamaan seperti NU, LDII dan Muhammadiyah, bersama tokoh agama Kristen setempat, turut mengambil bagian.

Pertemuan di tempat yang sarat sejarah itu seolah menghadirkan pesan sederhana bahwa keberagaman tidak harus menjadi jarak, tetapi dapat menjadi jembatan untuk kembali berbicara tentang kebangsaan dan kemanusiaan.

Tokoh muda Kediri, Agus Mahrus Aly atau yang akrab disapa Cak Ebel, menilai semangat kebangsaan tidak cukup hanya diucapkan melalui slogan.

Kebangsaan harus terus dirawat melalui perjumpaan dan kemauan untuk saling memahami.

“Kita boleh berbeda dalam keyakinan, namun tetap bersatu dalam kebangsaan dan bersama-sama dalam urusan kemanusiaan,” kata Cak Ebel.

Menurutnya, Indonesia tidak dibangun dari keseragaman. Justru keberagaman menjadi kekuatan ketika masyarakat mampu mengelolanya dengan sikap saling menghormati.

“Di sinilah pentingnya kita membangun dan merajut Indonesia dari keberagaman menuju Indonesia yang utuh, Indonesia yang menjadi milik kita bersama,” ujarnya.

Pesan tersebut terasa semakin kuat ketika disampaikan di lingkungan makam Tan Malaka.

Sosok bernama Ibrahim Datuk Tan Malaka itu dikenal bukan hanya sebagai pejuang kemerdekaan, tetapi juga pemikir yang berani menyuarakan gagasan tentang kemandirian, keberanian berpikir dan sikap kritis terhadap kekuasaan.

Baca Juga  Kejari Kota Mojokerto Gelar Lelang Serentak 9 Kendaraan Bermotor Rampasan Negara

Makam Tan Malaka di Selopanggung sendiri menyimpan perjalanan sejarah yang panjang.

Bahkan, keberadaan jasadnya sempat menjadi bagian dari perdebatan sejarah karena terdapat sejumlah versi mengenai lokasi eksekusi dan pemakamannya.

Namun, pertemuan kali ini tidak diarahkan untuk kembali mempertentangkan perdebatan tersebut.

Perhatian justru diarahkan pada gagasan dan nilai perjuangan yang masih relevan untuk dibicarakan di tengah kehidupan Indonesia saat ini.

Dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri, Dr Nur Solikin, menyampaikan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan secara fisik.

Lebih dari itu, para pendahulu bangsa memiliki cita-cita agar Indonesia mampu berdiri dengan kekuatan dan kemampuan sendiri.

Tantangan yang dihadapi generasi sekarang pun telah berubah bentuk. Penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk senjata atau pendudukan wilayah.

Ketergantungan teknologi, derasnya arus informasi, ketimpangan sosial hingga perkembangan kecerdasan buatan menghadirkan tantangan baru yang menuntut masyarakat semakin kritis dan mandiri.

Di ruang digital, informasi bahkan dapat menyebar dalam hitungan detik, sementara kemampuan masyarakat untuk memeriksa kebenarannya belum tentu bergerak secepat itu.

Karena itu, refleksi terhadap Tan Malaka dinilai tidak cukup jika hanya berhenti pada kegiatan ziarah dan tabur bunga.

“Tantangan modern ini menuntut kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita benar-benar sudah bebas?” kata Solikin.

Pertanyaan tersebut menjadi relevan di tengah perayaan kemerdekaan yang setiap tahun dipenuhi berbagai seremoni.

Sebab, kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila hanya berhenti sebagai ritual tahunan tanpa keberanian untuk melihat kembali persoalan bangsa.

Di satu sisi ada jejak sejarah Tan Malaka, di sisi lain ada masyarakat masa kini dengan segala tantangannya.

Keduanya bertemu dalam satu ruang refleksi tentang bagaimana menjaga Indonesia tetap utuh di tengah perubahan zaman.

Baca Juga  Dapur MBG Jombang Disorot Oknum Polisi, Anggota GAPEMBI Resah Dipanggil Tanpa Kejelasan

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa, tabur bunga dan perbincangan santai.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jatim

Jember, Jatimmandiri.id –  Pemerintah Kabupaten Jember terus memperluas layanan kesehatan gratis melalui program Homecare. Kali ini, layanan tersebut menyasar warga…