Probolinggo, Jatimmandiri.id – Tim gabungan masih melakukan pendinginan dan penyisiran kawasan bekas karhutla Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (17/8/2026).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan bara di dalam tanah benar-benar padam agar kebakaran sejak 3 Agustus itu tidak lagi meluas.
Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan, kewaspadaan tetap diperlukan karena kebakaran melanda vegetasi savana, cemara gunung, pakis, semak belukar, serta lapisan serasah.
“Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali, tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak, dan pengelola kawasan perlu terus memperkuat keterlibatan masyarakat, bukan hanya dalam pencegahan kebakaran, tetapi juga dalam pengelolaan taman nasional,” ujar Januanto.
Pendinginan dilakukan Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali-Nusa Tenggara, bersama Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD Jatim, relawan, dan masyarakat.
Tim memprioritaskan titik yang masih berpotensi menyimpan panas, sekaligus mewaspadai pusaran angin lokal yang dapat membawa material ringan atau bara ke lokasi lain.
Penanganan menghadapi kendala medan karena sejumlah lokasi berada di lereng curam dan kawasan berketinggian.
Kondisi tersebut membuat kendaraan pemadam sulit menjangkau seluruh titik.
Hingga Minggu (16/8/2026), luas kawasan terdampak tercatat 1.120,3 hektare.
Menurut Januanto, penanganan Bromo menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pencegahan agar kebakaran tidak berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih luas.
Sementara itu, Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan memastikan tidak ada penambahan luasan.
“Situasi lebih aman, lebih kondusif dalam penanganan karhutla ini. Luas lahan yang terdampak saat ini 1.120,3 hektare dan sampai sekarang tidak bertambah,” kata Wahyu di kawasan Bromo.
Meski kobaran api tidak lagi meluas, petugas masih menemukan indikasi asap di kawasan berketinggian.
Pemantauan udara mendeteksi satu titik asap di sekitar Pusung Duwur dan Bukit KingKong.
Asap tersebut diduga berasal dari bara yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Petugas kemudian melakukan penyisiran dan pembasahan untuk mencegah bara kembali berkembang menjadi api.
“Kalau tidak ditangani secepatnya, nanti bisa menjadi titik api yang besar. Ini yang kita sisir, termasuk sisa-sisa bara yang berada di dalam tanah,” jelas Wahyu.
Terkait pembukaan kembali kawasan wisata TNBTS, Wahyu menegaskan keselamatan wisatawan dan masyarakat menjadi pertimbangan utama.
Kawasan yang masih berpotensi menyimpan bara belum dapat dinyatakan aman.
“Kami memahami masyarakat dan pelaku pariwisata berharap kawasan wisata segera dibuka. Tetapi prinsip kami adalah keselamatan dan kredibilitas pemerintah. Jangan sampai kita menyatakan aman, kemudian muncul titik api kembali,” tegasnya.












