Dalam NegeriHeadlineJatim

Dulu Dianggap Haram, Kini Merah Putih Berkibar Khidmat di Ponpes Al-Islam Lamongan

×

Dulu Dianggap Haram, Kini Merah Putih Berkibar Khidmat di Ponpes Al-Islam Lamongan

Sebarkan artikel ini
`
Example 468x60

Lamongan, Jatimmandiri.id – Bendera Merah putih berkibar di halaman Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Islam Dirosah Islamiyah dan Tahfizh Al Qur’an, Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Senin (17/8/2026).

Di bawah bendera itu, tiga peleton santri berdiri tegap mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Tak ada keraguan. Tak ada lagi sikap menolak penghormatan terhadap Sang Saka Merah Putih.

Para santri justru menjadi petugas upacara. Mereka mengibarkan bendera, membacakan rangkaian upacara, dan menjalankan tugas dengan disiplin setelah mendapatkan latihan secara intensif.

Pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun bagi Ponpes Al-Islam, upacara kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Sebab, inilah untuk kedua kalinya pondok pesantren yang berdiri sejak 1993 itu menggelar upacara peringatan kemerdekaan.

Dulu, menggelar upacara bendera dan menghormati Merah Putih merupakan sesuatu yang dianggap haram di lingkungan pesantren tersebut.

Kini, para santri dapat berdiri bebas di bawah kibaran Merah Putih sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ponpes Al-Islam didirikan Drs KH Muhammad Chozin. Ia merupakan kakak kandung Amrozi dan Ali Imron (Muchlas), dua pelaku Bom Bali.

Dalam perjalanan masa lalu, pesantren tersebut pernah menganut paham khilafah dan terafiliasi dengan jaringan Jamaah Islamiyah (JI).

Ponpes Al-Islam juga disebut memiliki hubungan ideologis dengan Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Solo, yang pernah dipimpin Abu Bakar Baasyir.

Sejumlah pengajarnya juga disebut pernah berangkat ke wilayah konflik, termasuk Moro, Filipina Selatan dan Afganistan.

Namun, perjalanan itu kemudian berubah. Setelah melalui pendekatan dan pembinaan oleh Densus 88 Anti Teror Polri terhadap napi teroris, Jamaah Islamiyah akhirnya membubarkan diri pada 30 Juni 2024 di Bogor.

Baca Juga  KPK Tegaskan Febrie Berompi

Chozin bersama sejumlah pengajar turut menyatakan ikrar kembali kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan, sebagian pengajar telah menyampaikan ikrar tersebut sebelum pembubaran JI.

Perubahan tersebut perlahan terlihat dalam kehidupan pesantren. Salah satu simbol paling kuat adalah bendera Merah Putih.

Jika dahulu keberadaannya menjadi sesuatu yang dihindari, kini Sang Saka justru berkibar di halaman pesantren dan dihormati para santri.

Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi gambaran perubahan tersebut. Tiga pleton santri mengikuti upacara dengan khidmat.

Petugas dan pengibar bendera berasal dari kalangan santri yang sebelumnya menjalani latihan secara intensif.

Sejumlah pejabat dan unsur pemerintah turut hadir, di antaranya perwakilan Bakesbangpol Lamongan, Kapolsek Solokuro, serta Kementerian Agama.

Kabid Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jawa Timur Imam Turmudi bertindak sebagai inspektur upacara.

Di hadapan para santri, Imam menekankan bahwa agama dan Pancasila tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan.

Keduanya, menurut dia, memiliki peran yang saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

“Agama mencerahkan umat untuk menerima dan menghargai nilai-nilai luhur Pancasila. Pancasila melindungi seluruh umat beragama dan penganut kepercayaan,” ujar Imam saat memberikan pengarahan.

Ia menjelaskan, agama dapat mendukung tujuan negara tanpa mengesampingkan prinsip-prinsip ajarannya.

Dengan pemahaman agama yang baik, kata Imam, nilai-nilai keagamaan justru dapat menjadi kekuatan untuk mempercepat tercapainya cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.

Pesan tersebut terasa penting di tengah perjalanan panjang Ponpes Al-Islam. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan.

Bagi para santri, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana agama, pesantren, ulama, dan santri memiliki tempat dalam perjalanan bangsa.

Dari halaman pesantren di Tenggulun, Merah Putih kini berkibar tanpa keraguan. Para santri berdiri di bawahnya, bukan sekadar sebagai peserta upacara, tetapi sebagai bagian dari generasi yang akan meneruskan perjalanan bangsa.

Baca Juga  Peringati HUT ke-81 RI, PKS Surabaya Tegaskan Komitmen Kepedulian Sosial dan Kedaulatan Ekonomi

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun menjadi momentum untuk memperkuat tekad mengisi kemerdekaan dengan ilmu, akhlak mulia, kerja keras, dan pengabdian.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

MALANG, JATIM MANDIRI – Divisi Infanteri (Divif) 2 Kostrad meneguhkan semangat pengabdian dan menjaga kedaulatan bangsa dalam peringatan HUT ke-81…

Berita

3.563 Napi Langsung Bebas Jakarta, Jatim Mandiri Sebanyak 174.791 narapidana dan anak binaan di seluruh Indonesia menerima remisi dan pengurangan…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat kedaulatan Indonesia melalui kemandirian pangan, energi, ekonomi,…

Berita

Polda Jatim Kirim Bantuan ke NTT Surabaya, Jatim Mandiri Pemerintah menyiapkan dana siap pakai Rp5 triliun untuk mempercepat penanganan bencana…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Tujuh satuan kerja Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Jawa Timur beradu kreativitas melalui lomba video “DJKN se-Jatim…