Jateng

RKSDA Cilacap Fokus Cegah Kebakaran di Habitat Satwa

Penulis: Habib Al Bay Haqqi
×

RKSDA Cilacap Fokus Cegah Kebakaran di Habitat Satwa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Cilacap, Jatim Mandiri – Resor Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA) Wilayah Cilacap memfokuskan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di habitat satwa dilindungi, terutama kawasan konservasi rawan kebakaran seperti Taman Wisata Alam Gunung Selok, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi kebakaran selama musim kemarau.

Kepala RKSDA Wilayah Cilacap Wahyono Restanto pada Rabu (14/10) mengatakan pemantauan dilakukan melalui koordinasi titik api, khususnya pada kawasan yang berada di bawah pengelolaan RKSDA. Pemantauan dan pencegahan ditujukan untuk menjaga kawasan hutan tetap aman sekaligus mengurangi ancaman terhadap habitat dan kelestarian satwa liar.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Untuk kawasan RKSDA Wilayah Cilacap yang rawan, salah satunya di Gunung Selok. Di situ juga terdapat habitat burung dan ada aktivitas masyarakat,” kata Wahyono. Karena kerawanan tersebut, upaya pencegahan diarahkan pada lokasi yang sekaligus menjadi habitat satwa dan ruang aktivitas masyarakat.

Kawasan konservasi utama yang dikelola mencakup Cagar Alam Nusakambangan Timur, Cagar Alam Nusakambangan Barat, dan Taman Wisata Alam Gunung Selok. RKSDA Wilayah Cilacap juga mengawasi ekosistem perairan serta lahan basah Segara Anakan, sehingga pemantauan kebakaran mencakup sejumlah karakter kawasan konservasi di wilayah kerjanya.

Hingga saat ini RKSDA belum menerima laporan satwa dilindungi yang terdampak karhutla di wilayah kerjanya yang meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Belum ada pula laporan karhutla yang mencapai kawasan konservasi kelolaan RKSDA Wilayah Cilacap. Meski demikian, pencegahan tetap dijalankan sepanjang musim kemarau.

“Di kawasan Gunung Selok, kami melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui pemasangan spanduk imbauan untuk meningkatkan kesadaran dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi,” katanya. Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi agar masyarakat memahami pentingnya menjaga kawasan yang rawan kebakaran dan memiliki habitat burung.

Baca Juga  Gerebek Markas Sindikat Pig Butchering di Solo Baru, Polisi Amankan 38 WNA & WNI

Untuk kebakaran hutan di lereng selatan Gunung Slamet yang masuk wilayah Banyumas dan Purbalingga, penanganan memerlukan koordinasi lintas instansi, termasuk Perum Perhutani sebagai pengelola kawasan hutan. Koordinasi dilakukan melalui grup pemantauan titik api guna mendukung pengawasan, penanganan kebakaran di lapangan, serta perlindungan habitat satwa liar.

“Pemantauan kebakaran saat ini lebih difokuskan pada kawasan konservasi yang menjadi tanggung jawab RKSDA Wilayah Cilacap,” kata Wahyono. Koordinasi antarpihak diperlukan untuk mengetahui potensi ancaman kebakaran dan menyiapkan respons di lapangan, terutama ketika api berpotensi mengganggu kawasan hutan maupun habitat satwa liar.

Jika ada satwa dilindungi yang terluka atau ditemukan warga dalam kondisi membutuhkan pertolongan, petugas dapat melakukan evakuasi setelah menerima laporan. Masyarakat diharapkan segera melaporkan temuan satwa terdampak kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi di lapangan. “Seperti di Gunung Selok terdapat beberapa jenis burung yang memerlukan perlindungan sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya. Harapannya, pemantauan, pencegahan kebakaran, dan koordinasi antarpihak mampu menjaga hutan serta meminimalkan ancaman terhadap kelestarian satwa liar.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *