Semarang, Jatim Mandiri – Pemerintah Kota Semarang mendorong pertumbuhan ekosistem perfilman melalui Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF). Festival film pendek tersebut memasuki tahun kedua dan bertujuan menggairahkan sineas muda untuk berkreasi membuat film. Malam Anugerah LOFF 2026 digelar Jumat malam di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan festival itu menjadi ruang bagi karya film pendek dari berbagai daerah. Sebanyak 167 film mengikuti LOFF tahun ini. Peserta berkompetisi dalam tiga kategori, yakni pelajar, mahasiswa, dan umum.
Agustina mengapresiasi film-film yang masuk sebagai finalis. “Katanya para expert, film-film yang masuk sebagai finalis itu bagus banget semua,” kata Agustina dalam Malam Anugerah LOFF 2026. Penilaian tersebut disampaikan saat acara berlangsung di TBRS Semarang.
Menurut Agustina, upaya mendorong perfilman tidak berhenti pada pembuatan karya atau menjadikan suatu tempat sebagai latar film. Ekosistem yang tumbuh, kata dia, juga dapat memperkuat citra Semarang sebagai kota sinema. Ia menekankan pentingnya membangun lingkungan yang mendukung kegiatan perfilman.
“Sinema itu tidak hanya produksi film, tidak hanya menjadi setting film, tidak hanya menciptakan dan artis dari Kota Semarang. Tidak hanya sekedar itu, tapi membangun ekosistem,” ujar Agustina. Ia juga menyebut ekosistem perfilman secara luas mencakup perhotelan hingga pariwisata, yang potensinya dinilai besar di Kota Semarang.
Agustina menyampaikan LOFF akan kembali digelar pada tahun depan. Ia menggambarkan pengembangan perfilman sebagai proses bertahap, termasuk peluang menghadirkan lebih banyak rumah produksi untuk membuat film dan menggunakan Semarang sebagai latar. “Step by step. Kemudian, bisa menghadirkan banyak sekali production house untuk membuat film dan setting di sini, itu another step. Tahun depan kita akan buat lagi (LOFF, red.),” katanya.
Sutradara Hanung Bramantyo, salah satu juri festival, mengaku kagum terhadap hasil karya peserta. Ia secara khusus menyoroti film kategori pelajar yang dinilainya sangat bagus untuk usia pembuatnya. “Kaget. Karena masih SMA, tapi mereka sudah bisa membuat film sebagus-bagus itu. Ya, mungkin ukurannya zaman SMA saya, bikin film tuh enggak mungkin gitu,” kata Hanung.
Hanung juga menyinggung peralatan pembuatan film, seperti kamera dan kaset, yang pada masanya berharga sangat mahal dan dianggap barang mewah. Meski peralatan film sekarang relatif terjangkau, ia tetap mengapresiasi ide serta kreativitas anak-anak muda dalam menghasilkan film pendek berkualitas.
Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menyebut film dapat mengangkat beragam potensi Semarang, bukan hanya lokasi pengambilan gambar. “Selain lokasi-lokasi film, tapi ada busana, ada wastra, ada kuliner, segala macam yang masih bisa diangkat bersama,” ujarnya. Ia menyebut Semarang berpeluang menjadi hub dengan daerah-daerah di sekitarnya, sebagaimana Yogyakarta dan Bali.
Dalam pengumuman hasil festival, film “Sri Rejeki” terpilih sebagai film pendek terbaik kategori pelajar. Kategori mahasiswa dimenangkan “Curhatan Revi Siterusah”, sedangkan kategori umum dimenangkan “Throughout These Cages”. Ketiga karya tersebut menjadi pemenang dalam LOFF, yang diikuti 167 film pendek dari berbagai daerah melalui tiga kategori perlombaan.












