Lifestyle

Literasi Finansial Jadi Kunci Perempuan Wujudkan Rumah Impian dan Stabilitas Keluarga

×

Literasi Finansial Jadi Kunci Perempuan Wujudkan Rumah Impian dan Stabilitas Keluarga

Sebarkan artikel ini
Sebagai panduan pengelolaan keuangan, Jennittya menyarankan total cicilan utang keluarga tidak melebihi 35 persen dari penghasilan bulanan, termasuk cicilan rumah dan kewajiban lainnya.
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id – Kemampuan perempuan dalam mengelola keuangan kini menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga sekaligus mewujudkan impian memiliki rumah.

Peran perempuan sebagai istri dan ibu tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menentukan arah perencanaan finansial keluarga di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan tantangan ekonomi.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Hal tersebut dibahas dalam talk show daring bertajuk “Kartini Jaman Now: Pintar Atur Uang, Wujudkan Rumah Impian” yang digelar Pinhome bersama Financial Planner Jennittya Fitri Hidayat dan Head of Finance Komunitas Ibu Punya Mimpi, Rizky Amalia.

Dalam diskusi tersebut, Jennittya menilai ibu memiliki peran strategis sebagai pengelola keuangan keluarga, termasuk dalam menentukan prioritas pengeluaran hingga merancang tujuan jangka panjang seperti kepemilikan rumah.

“Meski tidak selalu menjadi pencari nafkah utama, ibu memiliki peran penting dalam menentukan prioritas pengeluaran agar kebutuhan keluarga terpenuhi dan tujuan besar seperti rumah impian tetap dapat tercapai. Karena itu, ibu bisa disebut sebagai ‘Menteri Keuangan’ keluarga,” ujar Jennittya.

Sementara itu, Rizky Amalia mengingatkan pentingnya memperhatikan pengeluaran kecil yang sering tidak disadari, seperti ongkos kirim, biaya parkir, administrasi, hingga belanja impulsif melalui aplikasi daring.

Menurutnya, jika tidak dikontrol, pengeluaran kecil tersebut dapat menimbulkan kebocoran finansial yang berdampak pada kondisi ekonomi keluarga.

“Karena itu, penting untuk disiplin terhadap anggaran yang sudah dibuat dan menyiapkan pos khusus untuk kebutuhan tak terduga agar pengeluaran tetap terkendali,” kata Rizky.

Sebagai panduan pengelolaan keuangan, Jennittya menyarankan total cicilan utang keluarga tidak melebihi 35 persen dari penghasilan bulanan, termasuk cicilan rumah dan kewajiban lainnya.

Sementara bagi keluarga dengan penghasilan tunggal atau tidak tetap, porsi cicilan ideal berada di kisaran 20 hingga 25 persen agar kebutuhan hidup, dana darurat, dan tabungan pendidikan anak tetap aman.

Baca Juga  Sound The Shit Bikin Bukan Telenovela, Ubah Luka Jadi Ledakan Musik

“Impian punya rumah harus membuat keluarga tenang, bukan justru menjadi sumber stres setiap tanggal tagihan tiba,” ujarnya.

Untuk membantu masyarakat memahami kemampuan finansial dalam membeli rumah, Pinhome menghadirkan fitur pencarian properti dan simulasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) melalui aplikasinya.

CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan layanan tersebut memudahkan masyarakat menghitung estimasi cicilan sekaligus mencari solusi pembiayaan yang lebih hemat.

Selain simulasi KPR, Pinhome juga menghadirkan layanan konsultasi KPR Takeover yang memungkinkan pengguna menghemat cicilan hingga 40 persen dengan peluang kembali masuk masa bunga tetap atau fixed rate.

“Melalui layanan KPR Takeover di Pinhome, pengguna dapat menikmati proses yang praktis mulai dari simulasi hingga akad, pengajuan ke banyak bank sekaligus, cashback jutaan rupiah, serta dukungan lebih dari 40 bank dan institusi keuangan,” jelas Dayu.

Jennittya menambahkan, stabilitas rumah tangga dapat tercapai ketika ibu mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta menjaga konsistensi dalam menabung.

“Mengelola keuangan bukan berarti pelit, tetapi memastikan uang digunakan untuk hal-hal yang benar-benar penting bagi keluarga,” katanya.

Di akhir diskusi, Rizky menegaskan pentingnya peningkatan literasi finansial bagi perempuan agar lebih percaya diri dalam mengatur keuangan dan memahami berbagai instrumen finansial.

“Perempuan, khususnya ibu, merupakan pilar pengelolaan keuangan rumah tangga. Karena itu, kemampuan literasi finansial perlu terus ditingkatkan agar tujuan finansial jangka panjang keluarga dapat tercapai,” tutupnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *