BeritaJatim

Jepang Ditarget untuk Ekspor Mangga Jatim

×

Jepang Ditarget untuk Ekspor Mangga Jatim

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, Jatim Mandiri

Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara membidik Jepang sebagai pasar ekspor baru bagi mangga asal Jawa Timur. Namun akses ekspor mangga Indonesia ke negara tersebut masih menghadapi sejumlah persyaratan teknis, terutama berkaitan dengan pengendalian lalat buah.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Salah satu tantangan utamanya adalah masalah lalat buah. Kami sedang bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengatasinya. Memang membutuhkan biaya, tetapi saya yakin kalau hambatan ini bisa diselesaikan, pasar Jepang akan terbuka dan masyarakat Jepang akan menyukai mangga Indonesia,” kata Iftitah dalam keterangan resmi seperti dikutip Antara, Senin (13/7/2027).

Dia menyebut penyelesaian hambatan akan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi mangga Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha daerah. Iftitah menilai mangga alpukat asal Pasuruan maupun mangga arumanis dari Probolinggo, Jawa Timur memiliki daya saing tinggi dan berpeluang menjadi salah satu komoditas hortikultura unggulan Indonesia di pasar internasional.

“Saya pernah mencicipi mangga dari berbagai negara, mulai dari Pakistan, Thailand, India, China, Meksiko sampai Brasil. Tapi menurut saya, tidak ada yang mengalahkan manisnya mangga Jawa Timur,” ujarnya.

Mentrans menjelaskan dirinya kerap mengirim mangga asal Jawa Timur kepada Duta Besar Amerika Serikat (AS), China, Australia, serta sejumlah negara sahabat untuk memperkenalkan kualitas komoditas tersebut. Menurut dia, respons yang diterima sejauh ini sangat positif. “Mereka menyukai mangga dari Jawa Timur,” ungkap Iftitah.

Ia menyebut Kementerian Transmigrasi bersama kementerian dan lembaga terkait tengah menyiapkan pengembangan kawasan berbasis komoditas unggulan untuk membangun rantai nilai dari tahap budi daya, pengolahan, hingga pemasaran dan ekspor.

Iftitah menekankan setiap kawasan akan dikembangkan sesuai dengan potensi utama yang dimiliki, baik mangga, durian, kelapa, maupun komoditas lainnya. “Kalau suatu daerah unggul di mangga, maka kita bangun ekosistem mangga. Begitu juga dengan kelapa dan komoditas lainnya. Setiap kawasan harus dikembangkan sesuai potensi yang dimiliki,” ucapnya.

Baca Juga  Polres Bondowoso Bantu Keluarga Bayi Kembar yang Kehilangan Ibu, Wujud Empati Polri untuk Masyarakat

Pendekatan tersebut, menurut dia, menjadi bagian dari transformasi transmigrasi yang tidak lagi hanya berorientasi pada perpindahan penduduk. Tapi juga pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Pengembangan kawasan ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperbesar nilai tambah komoditas lokal bagi masyarakat. “Kita ingin kawasan transmigrasi menjadi kawasan ekonomi yang berkembang sesuai potensi daerahnya,” tutur Iftitah.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menyambut kolaborasi tersebut dan menilai penguatan daya saing produk unggulan daerah membutuhkan sinergi pemerintah, dunia usaha, media, serta kreator digital.

“Kalau ingin menciptakan sesuatu yang besar, kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kolaborasi. Pemerintah, dunia usaha, media, dan kreator digital harus berjalan bersama agar potensi daerah bisa dikenal lebih luas,” ungkap Emil.

Ia menjelaskan promosi melalui media sosial dan konten digital dapat memperluas pasar sekaligus memperkuat citra produk unggulan Indonesia di tingkat global.

Lebih lanjut, Kementerian Transmigrasi berharap pengembangan kawasan berbasis komoditas unggulan dapat mendorong lebih banyak produk daerah menembus pasar ekspor dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Pada April 2024, Badan Karantina Indonesia (Barantin) telah menyatakan Jepang memiliki potensi pasar mangga sekitar 7.000 ton per tahun dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp140 miliar.

Saat itu, Indonesia diproyeksikan mampu memasok sekitar 600 ton mangga pada tahap awal apabila seluruh persyaratan teknis ekspor dapat dipenuhi.

Barantin juga menyebut akses ekspor mangga ke Jepang memerlukan pemenuhan sejumlah persyaratan teknis, antara lain registrasi kebun, rumah kemas, serta fasilitas perlakuan karantina untuk memastikan buah bebas dari lalat buah.

Persyaratan tersebut sejalan dengan upaya yang kini didorong Kementerian Transmigrasi untuk membuka akses pasar mangga Jawa Timur ke Jepang. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *